Kisah Abdullah Bin Mas’ud R.a Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Kisah Abdullah Bin Mas’ud R.a Lengkap, biografi abdullah bin mas'ud kata mutiara abdullah bin mas'ud, kisah teladan abdullah bin mas'ud,  abdullah bin mas'ud quotes, ibnu mas'ud bogor, abdullah bin abbas, abu hurairah, anas bin malik, kisah teladan abdullah bin mas'ud, abdullah bin mas'ud biografi, kata mutiara abdullah bin mas'ud, abdullah bin mas'ud umm abd bint abdwadd, abdullah bin mas'ud quotes, abdullah bin mas'ud ilmu itu, abdullah bin mas'ud pdf, ibnu mas'ud wikipedia,
Kisah Abdullah Bin Mas’ud R.a Lengkap
Kisah Abdullah Bin Mas’ud R.a Lengkap - Alhamdulillah, Saat ini saya lagi sibuk main youtube bro, kalau mau subscriber klik aja diatas itu ada sosial media saya dan tinggal susbscriber gratis, tapi saya ini orangnya tidak gaul, saya hanya share tentang ilmu agama sahaja, saya mau gaul ala anak langit aja gak mau disini :D disini fana tidak abadi. Ah malah curhat xixixixi.. Baiklah setelah sekian lama postinga tentang shahabiyyah sekarang saya mulai posting lagi tentang kisah sahabat Rasulullah SAW. Kisah yang saya tulis saat ini adalah Kisah Abdullah Bin Mas’ud R.a Lengkap :

Orang Pertama yang Berani Membaca Al Qur’an dengan Jahr (Keras)
Setelah Rasulullah Saw
“Barang Siapa yang Suka Membaca Al Qur’an Sesegar Seperti Baru
Turun, Maka Bacalah dengan Bacaan Ibnu Ummi Abd” (Muhammad
Rasulullah)
Saat itu ia adalah seorang anak kecil yang belum juga sampai pada usia
baligh. Ia tumbuh di sebuah lereng Mekkah yang jauh dari keramaian
manusia. Ia memiliki domba yang ia gembalakan milik salah seorang
pembesar Quraisy yang bernama Uqbah bin Abi Muayyath.24
Kebanyakan orang memanggilnya dengan Ibnu Ummi Abdin. Nama
sebenarnya adalah Abdullah. Nama ayahnya adalah Mas’ud.

Bocah ini mendengar kisah Nabi Saw yang tersiar di kalangan
kaumnya, namun ia tidak perduli dengan berita tersebut karena saat itu ia
masih kecil dari satu sisi, dan karena ia terisolir jauh dari masyarakat
Mekkah dari sisi lain. Ia terbiasa untuk keluar rumah pada pagi hari
dengan menggembala domba milik Uqbah, dan tidak kembali kecuali bila
malam sudah tiba.

Pada suatu hari bocah yang bernama Abdullah bin Mas’ud ini melihat
ada 2 orang pria dewasa yang sedang berjalan ke arahnya dari jauh.
Keduanya terlihat letih. Mereka amat kehausan sehingga kedua bibir dan
tenggorokan mereka kering.
Begitu keduanya berdiri di hadapan bocah ini maka mereka
mengucapkan salam kepadanya dan berkata: “Wahai ananda, tolong
peraskan susu domba-domba ini untuk menghilangkan rasa haus kami dan
membasahi tenggorokan kami.” Maka bocah tadi berkata: “Aku tidak akan
melakukannya. Domba-domba ini bukan milikku. Aku hanya dipercayakan
untuk menggembalanya saja!” Kedua pria tadi tidak memungkiri apa yang
_________________________________________________
24 Dia adalah Uqbah bin Aban bin Dzakwan bin Ummayyah bin Abdus Syams, salah seorang pembesar Quraisy pada masa jahiliyah. Panggilannya adalah Abul Walid dan panggilan ayahnya adalah Abu Muayyath dan dengan nama panggilan ini yang lebih masyhur di kalangan manusia. Dia adalahorang yang amat menentang Rasulullah Saw dan menyiksa kaum muslimin. Ia terbunuh setelah perang Badr.
_________________________________________________

dikatakan oleh bocah ini, dan nampak dari kedua wajah mereka bahwa
mereka menerima apa yang dikatakannya. Kemudian salah seorang di
antara mereka berkata kepada bocah tadi: “Tunjakan kepadaku seekor
domba jantan!” Maka bocah tersebut menunjuk ke arah seekor domba kecil
yang ada di dekatnya. Lalu pria tadi menghampiri dan menangkapnya. Ia
mengusap puting kambing dengan tangannya sambil membaca nama
Allah. Bocah tadi melihat apa yang dilakukan pria ini dengan amat heran.
Ia berkata dalam dirinya: “Bagaimana bisa seekor domba jantan kecil dapat
mengeluarkan susu?!”

Akan tetapi puting susu kambing tadi menggelembung, dan lalu mulai
keluarlah susu dengan begitu banyaknya. Lalu pria yang satunya lagi
mengambil sebuah batu kering dari tanah. Kemudian batu tersebut ia isi
dengan susu. Dan keduanya minum dari batu tersebut.Lalu keduanya
memberikan susu tersebut kepadaku untuk diminum, dan aku hampir saja
tidak mempercayai apa yang baru saja aku lihat.

Begitu kami sudah merasa puas. Pria yang mendapatkan berkah dengan
susu kambing tadi berkata: “Berhentilah!” Maka berhentilah susu tersebut
sehingga puting kambing kembali seperti sediakala.
Pada saat itu, aku berkata kepada manusia yang penuh berkah tadi:
“Ajarkan aku ucapan yang kau baca tadi!” Ia menjawab: “Engkau adalah
seorang bocah yang terpelajar!”

Peristiwa tersebut adalah awal kisah Abdullah bin Mas’ud dengan
Islam. Karena pria yang penuh berkah tadi tiada lain adalah Rasulullah
Saw, dan sahabat yang menyertainya saat itu adalah Abu Bakar As Shiddiq
ra.
Mereka berdua pada hari itu pergi menuju lereng-lereng Mekkah,
karena menghindari penyiksaan yang akan ditujukan kepada mereka oleh
suku Quraisy.

Sebagaimana bocah tadi begitu mencintai Rasulullah Saw dan
sahabatnya tadi. Maka bocah tadi juga telah membuat Rasul dan
sahabatnya merasa takjub sehingga keduanya memberikan amanat yang
besar dan mengawasi perkembangan kebaikan pada dirinya.

Tidak berselang lama sejak itu maka Abdullah bin Mas’ud menyatakan
masuk Islam dan menyerahkan dirinya kepada Rasulullah Saw untuk
membantu Beliau. Maka Rasulullah Saw menjadikan dia sebagai
pembantunya.

Sejak saat itu bocah yang beruntung ini berpindah jabatan dari tadinya
sebagai penggembala domba dan kini menjadi seorang pembantu
pemimpin seluruh makhluk dan ummat.

Abdullah bin Mas’ud terus mendampingi Rasulullah Saw seperti sebuah
bayangan. Ia terus menemani Rasulullah Saw baik dalam kondisi menetap
atau saat bepergian. Ia juga mendampingi Rasulullah Saw baik di dalam
maupun di luar rumah.
Dialah yang membangunkan Rasulullah Saw saat Beliau tidur. Dia yang
menutupi Rasul bila Beliau sedang mandi. Dia yang memakaikan sandal,
bila Rasul hendak keluar. Dan melepaskannya lagi bila Rasulullah Saw
hendak masuk ke rumah. Dia yang membawa tongkat dan siwak Rasul.
Dan dialah yang masuk ke dalam kamar Rasulullah bila Beliau hendak
tidur.

Bahkan Rasulullah Saw mengizinkan Abdullah bin Masud untuk masuk
ke rumahnya kapan saja ia berkehendak. Dan Rasul Saw membiarkan
Abdullah mengetahui rahasia Beliau tanpa pernah merasa resah, sehingga
ia dikenal dengan sebutan ‘penjaga rahasia Rasulullah Saw.’

Abdullah bin Mas’ud di bina di rumah Rasulullah Saw sehingga ia
dapat menyerap petunjuk yang diberikan Rasul dan berakhlak seperti
akhlak Beliau. Ia mengikuti jejak Rasul dalam setiap gerak-geriknya,
sehingga ada yang mengatakan: ‘Dia adalah manusia yang paling dekat
kepada Rasul dalam menerima petunjuk dan akhlaknya!”

Abdullah bin Mas’ud belajar langsung di bawah bimbingan Rasulullah
Saw sehingga ia menjadi sahabat yang paling paham akan bacaan Al
Qur’an. Yang paling mengerti akan maknanya dan paling tahu akan syariat
Allah.

Tidak ada kisah yang paling menunjukkan hal ini kecuali cerita seorang
pria yang datang kepada Umar bin Khattab saat ia sedang wukuf di Arafah.
Maka pria ini berkata kepada Umar: “Wahai Amirul Mukminin, aku
datang dari Kufah, di sana ada seorang pria yang mendiktekan mushaf Al
Qur’an dari luar kepalanya (Pent. Begitu hapalnya). Maka Umar langsung
marah dengan begitu kerasnya, jarang Umar marah seperti ini. Ia langsung
naik pitam sehingga seolah ia membesar memenuhi ruas badan
tunggangannya. Ia berkata: “Celaka kamu, siapakah dia?!” Pria tadi
menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.”
Amarah Umar langsung beringsut dan ia kembali lagi dalam kondisi
semula. Lalu ia beujar: “Celaka kamu, Demi Allah aku tidak tahu ada orang

yang masih tersisa yang lebih berhak dalam urusan ini selain dia. Aku akan
bercerita kepadamu akan hal ini.”
Umar memulai pembicaraannya:
“Suatu malam Rasulullah Saw sedang berbicara dan bermusyawarah
dengan Abu Bakar ra seputar permasalahan kaum muslimin.Saat itu aku
bersama mereka. Kemudian Rasulullah Saw keluar dan kami ikut keluar
bersamanya. Ternyata kami dapati ada seorang pria yang sedang shalat di
mesjid dan kami tidak tahu siapa dia sebenarnya. Rasul Saw diam sejenak
untuk mendengarkan bacaannya.

Kemudian Beliau menoleh ke arah kami
sambil bersabda: “Siapa yang ingin membaca Al Qur’an yang segar seperti
baru diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin!”
Kemudian terlihat Abdullah bin Mas’ud duduk dan berdo’a. Maka
Rasulullah Saw langsung bersabda kepadanya: “Mintalah pasti engkau
akan diberi! Mintalah pasti engkau akan diberi!”
Lalu Umar meneruskan kisahnya:

“Aku berkata dalam diri: Demi Allah, besok pagi aku akan mendatangi
Abdullah bin Mas’ud dan aku akan menyampaikan kabar gembira bahwa
Rasulullah Saw mengaminkan do’anya. Keesokan harinya aku datang
kepada Abdullah untuk menyampaikan kabar gembira ini, namun aku
temui Abu Bakar telah mendahuluiku untuk memberi kabar gembira ini
kepadanya.
Demi Allah, tidak pernah aku mengalahkan Abu Bakar dalam kebaikan,
pasti ia sudah lebih dahulu melakukannya!”

Ilmu Abdullah bin Mas’ud tentang Kitabullah telah sampai pada
tingkatan sebagaimana yang ia katakan:
“Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Tidak ada satu ayatpundari
Kitabullah yang turun kecuali aku mengetahui dimana ia diturunkan, dan
aku mengetahui dalam peristiwa apa ia diturunkan. Jika aku tahu ada
seseorang yang lebih mengerti Kitabullah dariku, jika mungkin untuk
ditempuh pasti akan ku datangi ia.

Abdullah bin Mas’ud tidak berlebihan saat ia berkata tentang dirinya.
Inilah kisah Umar bin Khattab ra yang berjumpa dengan sebuah kafilah
dalam sebuah perjalanan, dan malam sudah meliputi siang sehingga
membuat kafilah tadi kegelapan.
Dalam kafilah tersebut terdapat Abdullah bin Mas’ud. Maka Umar bin
Khattab memerintahkan seseorang untuk memanggil mereka: “Dari mana
kafilah ini?” Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab: “Minal fajjil amiq
(Dari lembah yang jauh)!’ Umar bertanya: “Hendak kemana kalian?”

Abdullah menjawab: “Al Baital atiq (Ke rumah tua / Ka’bah)!” Maka Umar
berkata: “Dalam kafilah ini ada seorang yang Alim… dan Umar
memerintahkan seseorang untuk bertanya: “Ayat Al Qur’an mana yang
paling agung?” Maka Abdullah menjawab: “Allahu La Ilaaha illa Huwa Al
Hayyu Al Qayyum, La Takhudzuhu sinatun wa la naum (Allah, tiada Tuhan
selai Dia Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri. Ia tidak pernah merasa
ngantuk dan tertidur.”

Umar memerintahkan: “Tanyakan kepada mereka ayat Al Qur’an mana
yang paling bijak?” Maka Abdullah menjawab: “Inna Allaha ya’muru bil
adli wal ihsan wa iitai dzil qurba (Sungguh Allah memerintahkan untuk
berbuat adil, baik dan memberikan bantuan kepada kerabat terdekat).”
Umar lalu memerintahkan: “Tanyakan kepada mereka, ayat Al Qur’an
mana yang paling lengkap?” Abdullah menjawab: “Fa man ya’mal mitsqala
dzarratin khayran yarahu, wa man ya’mal mitsqala dzarratin syarran
yarahu (Siapa orang yang melakukan kebaikan seberat biji dzarrah maka ia
akan melihatnya. Siapa orang yang melakukan keburukan seberat biji
dzarrah maka ia akan melihatnya.”

Umar memerintahkan: “Tanyakan kepada mereka, ayat Al Qur’an mana
yang paling membuat takut?” Abdullah menjawab: “Laisa bi amaniyikum
wa la amaniyi ahlil kitab man ya’mal suu’an yujza bihi wa la yajid lahu min
duunillahi waliyyan wa la nashiran ((Pahala dari Allah) itu bukanlah
menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut anganangan
Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan
diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung
dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah).”

Umar lalu memerintahkan: “Tanyakan kepada mereka, ayat Al Qur’an
mana yang paling memberi harapan?” Abdullah menjawab: “Qul ya
ibadiya alladzina asrafu ala anfusihim wa la taqnatuu min rahmatillah
Innallaha yaghfiru Adz dzuuuba jamiian. Innahu Huwa Al Ghafuur Al
Rahiim (Katakanlah:"Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat
Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).”
Umar memerintahkan: “Apakah ada Abdullah bin Mas’ud bersama
kalian?” Maka rombongan tersebut serempak menjawab: “Benar!”

Abdullah bin Mas’ud tidak hanya pandai, mengerti Al Qur’an, taat
beribadah dan zuhud saja; akan tetapi ia bahkan adalah sosok yang kuat,
tegar, mujahid yang pantang mundur jika berperang.
Dalam hal ini sebagi buktinya cukup dengan pernyataan bahwa dia
adalah muslim pertama di muka bumi setelah Rasul Saw yang berani
membacakan Al Qur’an dengan terang-terangan.

Pada suatu hari para sahabat Rasulullah Saw tengah berkumpul di
Mekkah. Saat itu mereka adalah kelompok minoritas yang selalu tertindas.
Mereka berkata: “Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar Al
Qur’an dibacakan dengan keras kepada mereka. Siapakah orang yang
berani membacakannya kepada mereka?!”
Maka Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku yang akan membacakan Al
Qur’an kepada mereka!”

Maka para sahabat tadi menukas: “Kami khawatir mereka akan
mencelakaimu. Yang kami inginkan adalah seseorang yang memiliki
keluarga besar yang dapat melindungi dan menjaganya dari kejahatan
mereka bila mereka berniat melakukannya.”
Abdullah menjawab: “Biarkan aku melakukannya, karena Allah akan
menjaga dan melindungiku!”

Kemudian ia pergi ke Masjidil Haram dan ia berjalan ke arah maqam
Ibrahim pada waktu dhuha. Saat itu suku Quraisy sedang duduk di
sekeliling Ka’bah. Abdullah lalu berdiri di depan Maqam Ibrahim dan
membacakan dengan suara keras: “Bismillahirrahmanirrahim, Ar Rahman,
Allamal Qur’an, Khalaqal Insana, Allamahul Bayan. ((Tuhan) Yang Maha
Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qur'an. Dia menciptakan manusia,
Mengajarnya pandai berbicara).” Ia masih meneruskan bacaannya. Maka
suku Quraisy mulai meresapi bacaannya. Mereka berkata: “Apa yang
sedang dibacakan oleh Ibnu Ummi Abdin? Celaka dia! Dia sedang
membaca sebagian ayat yang dibawa oleh Muhammad!”

Maka mereka langsung menghampiri Abdullah dan memukuli
wajahnya dan ia masih saja meneruskan bacaannya sehingga batas yang
Allah tentukan. Kemudian ia datang menghadap para sahabatnya dan
darah mengalir dari tubuhnya. Para sahabatnya berkata: “Inilah yang kami
khawatirkan pada dirimu!”

Abdullah menjawab: “Demi Allah, para musuh Allah tidak ada yang
lebih berat dari mereka mulai saat ini. Jika kalian mau, besok pagi aku akan
membuat mereka semua seperti ini!” Para sahabat menjawab: “Jangan,
cukuplah karena engkau telah berani membacakan kepada mereka apa
yang mereka benci!”

Abdullah bin Mas’ud masih hidup hingga masa khilafah Utsman bin
Affan ra. Saat ia sudah mendekati ajalnya, Utsman menjenguknya lalu
bertanya: “Apa yang kau keluhkan?” Ia menjawab: “Dosa-dosaku.” Utsman
bertanya: “Apa yang kau inginkan?” Ia menjawab: “Rahmat Tuhanku.”
Utsman bertanya: “Apakah engkau menginginkan jatahmu yang selalu kau
tolak sejak bertahun-tahun lalu?” Ia menjawab: “Aku tidak
memerlukannya.” Utsman berkata: “Itu akan bermanfaat bagi anak-anak
putrimu sepeninggalmu nanti” Ia menjawab: “Apakah engkau khawatir
anak-anakku menjadi faqir? Aku telah memerintahkan mereka untuk

membaca surat Al Waqiah setiap malam. Dan aku pernah mendengar
sabda Rasul Saw: ‘Siapa yang membaca surat Al Waqiah setiap malam,
maka ia tidak akan terkena kefakiran untuk selamanya.”

Begitu malam tiba, Abdullah bin Mas’ud kembali kepangkuan
Tuhannya. Lisannya basah dengan dzikir kepada Allah, dan penuh dengan
aya-ayat Allah yang jelas.
Jenazahnya dishalatkan oleh ribuan kaum muslimin; termasuk
didalamnya Zubeir bin Awwam.
Kemudian ia dimakamkan di Baqi. Semoga Allah merahmatinya.
Untuk merujuk lebih jauh tentang profil Abdullah bin Mas’ud silahkan
melihat:

1. Al Ishabah 2/368 atau terjemah 4954
2. Al Isti’ab (dengan Hamisyh Al Ishabah): 2/316
3. Tarikhul Islam karya Al Dzahaby: 2/100-104
4. Tadzkiratul Huffadz: 1/12-15
5. Al Bidayah wa An Nihayah: 7/162-163
6. Thabaqat Al Sya’rani: 29-30
7. Syadzarat Al Dzahab: 1/38-39
8. Usudul Ghabah: 3/384-390
9. Siyar A’lam An Nubala: 1/461-500
10. Shifatus Shafwah: 1/154-166
11. Musnad Al Imam Ahmad: 5/210
12. Dalail An Nubuwah: 273

Cam mane? pengen tiru sifat sahaabat yang satuni ? sembarang ajelah, keistimewaan dari semua shabat rasulullah SAW adalah sifat mereka itulah. Pada zaman baginda Rasulullah SAW suasana agama hidup sehingga semua makhluk allah tundukkan kepada mereka karena keimanan mereka benar 100/100.

Kisah Abdullah Bin Mas’ud R.a Lengkap, biografi abdullah bin mas'ud kata mutiara abdullah bin mas'ud, kisah teladan abdullah bin mas'ud,  abdullah bin mas'ud quotes, ibnu mas'ud bogor, abdullah bin abbas, abu hurairah, anas bin malik, kisah teladan abdullah bin mas'ud, abdullah bin mas'ud biografi, kata mutiara abdullah bin mas'ud, abdullah bin mas'ud umm abd bint abdwadd, abdullah bin mas'ud quotes, abdullah bin mas'ud ilmu itu, abdullah bin mas'ud pdf, ibnu mas'ud wikipedia.
Read more

Tamsil Dakwah Naik Helikopter

Tamsil Dakwah Naik Helikopter
Tamsil Dakwah Naik Helikopter
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Tamsil Dakwah Naik Helikopter - Maha suci allah dengan segala nikmat yang sudah IA berikan kepada hamba yang sangat banyak dosa ini. Semoga Allah SWT mengampuni dosa dosa kita sebagai mahkluknya yang selalu berlumuran dosa, dan semoga nyawa kita dicabut dalam keadaan beriman, #Amin.

Ikut belajar da’wah (khuruj fii sabilillah) seperti yang banyak yang dilakukan jama’ah tabligh adalah sarana yang efektif untuk perbaikan diri (ishlahun nafs). Jika beruntung dipilih oleh Allah s.w.t. untuk khuruj (keluar) 3 hari ibarat kita memandang keadaan rumah kita. Akan sangat sulit jika ingin mengetahui kondisi rumab kita yang bocor, miring, catnya mengelupas dan lain sebagainya. kalau kita hanya berdiam diri di dalam rumah saja. Kita baru merasa yakin bahwa rumah kita selama ini bocor, miring dan banyak kerusakannya jika kita berada di luar rumah, Khuruj 3 hari baru belajar sadar diri dan risau umat dan keluarga.

Bila kita mampu khuruj 40 hari diibaratkan seperti kita naik pohon kelapa. Dan puncak pohon kita bisa memandang rumah-rumah di satu kampung. Akan timbul kerisauan agama dalam diri kita bahwa ternyata ada tugas besar dan mulia yang harus kita ambil. Timbul kekuatan dan semangat (jasbah) untuk menghidupkan kampung kita dengan 5 amal masjid (maqami). Kesempurnaan lima amal maqami menjadi solusi terpenting di kampung kita. Silaturahmi harian dan jaulah (berkeliling) dalam se pekan akan mampu membereskan kesalahpahaman penduduk kampung terhadap usaha agama. Khuruj 3 hari per bulan dari masjid kampung kita sebagai sarana membentuk dan mengasah fakir dan risau umat bagi anggota kampung kita. Khuruj 40 hari membentuk kesadaran bahwa kita terlahir sebagai da’i, penerus kerja Nabi meskipun hal ini tidak pernah kita minta kepada Allah Ta’ala.

Kemudian tangga pengorbanan kembali ditingkatkan. Kita khuruj 4 bulan diibaratkan kita naik helikopter. Cara pandang dan bentuk fikir dan risau kita akan lain jika kita mengikuti dengan sungguh-sungguh program khuruj 4 bulan mi. Seperti berada di helikopter yang sedang terbang di angkasa, maka kita akan mampu melihat keadaan kampung-kampung dalam skala wilayah yang lebih luas. Dengan sendirinya akan terbentuk kesadaran setelah memotret kehidupan dan keadaan umat di berbagai kampung. Bagaimana hari ini umat terpecah-pecah gara-gara politik, umat terkotak-kotak gara-gara berbeda bendera partai. Kemungkaran dan kemaksiatan dipertontonkan. Setiap hari kejahatan dan kezhaliman terdengar akrab di telinga kita. Kondisi umat seperti ini jika disikapi dengan kacamata agama akan membentuk karakter da’i yang handal, teguh, sabar dan ulet, penuh kasih sayang pada umat dan siap berkorban apa pun dan kapan pun demi agama. Maka sebagaimana Allah s.w.t. mulai meniupkan ruh kehidupan pada jasad kita saat usia 4 bulan dalam rahim ibu, dengan khuruj 4 bulan mi pun Allah s.w.t. akan meniupkan ruh iman kepada kita, insya Allah !!

Bagaimana ? semoga bisa dipahami ya tentara tentara allah, biarlah penduduk bumi tidak mengakui kita asalkan penduduk langit mengakui kita hahaha, jazakallah khoir sudah mapir di blog saya/

Read more

Kisah Sumayyah binti Khayyat Ra.a Lengkap

Kisah Sumayyah binti Khayyat Ra.a Lengkap, kisah sumayyah binti khabbat ra, sumayyah binti khabath, kisah sumayyah ummu ammar bin yasir, sumayyah binti khayyat abdullah ibn yasir, keluarga yasir kisah keluarga penghuni surga,  arti sumayyah, sumayyah qoriah,
Kisah Sumayyah binti Khayyat Ra.a Lengkap
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Kisah Sumayyah binti Khayyat Ra.a Lengkap - Subhanallah masih tetap semangat saya ni reader yang setia di blog ana, semoga antum yang membaca bisa meneladani dengan baik dan untuk ukhti yang membaca semoga menjadi teladan karena keimanan shahabiyyah pada masa hidupnya baginda nabi muhammad SAW sangat berbeda dengan keimanan kita umat akhir zaman. Mereka sangat meyakini seyakin yakinnya perkataan allah dan rasul, sifat mereka sami'na wato'na kita mestinya bisa mencontoh mereka, karena barang siapa yang mencontoh suatu kaum maka mereka akan dibangkitkan dengan kaum tersebut. Baiklah ini dia kisah dari Sumayyah binti Khayyat Ra.a Lengkap :
Namanya adalah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekah. Karenanya, tidak ada kabilah yang dapat membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Sebab, dia hidup sebatang kara, sehingga posisinya sulit di bawah naungan aturan yang berlaku pada masa jahiliyah.

Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindugannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Hudzaifah, sehingga akhirnya dia dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah. Dia hidup bersamanya dan tenteram bersamanya. Tidak berselang lama dari pernikahannya, lahirlah anak mereka berdua yang bernama Ammar dan Ubaidullah.

Tatkala Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada beliau. Akhirnya, berpikirlah Ammar bin Yasir sebagaimana berpikirnya penduduk Mekah. Karena kesungguhan dalam berpikir dan fitrahnya yang lururs, maka masuklah beliau ke dalam agama Islam.
Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh barakah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya, sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulainya sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk yang pertama kalinya.

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat, sehingga orang-orang kafir tidak menanggapinya, melainkan dengan pertentangan dan permusuhan.

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari din mereka, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir tatkala keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad… Ahad…,

beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, Ammar, dan Bilal.
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa degan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Jannah.”

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka beliau bertambah tegar dan optimis, dan dengan kewibawaan imannya dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Begitulah, Sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya iman, sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Di hatinya telah dipenuhi akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para taghut yang zalim. Mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya ekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Tatkala para taghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah, maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah. Maka terbanglah nyawa beliau yang beriman dan suci bersih dari raganya. Beliau adalah wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabbnya. “Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanannya.”

Sumber: kitab Nisaa’ Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

Kisah Sumayyah binti Khayyat Ra.a Lengkap, kisah sumayyah binti khabbat ra, sumayyah binti khabath, kisah sumayyah ummu ammar bin yasir, sumayyah binti khayyat abdullah ibn yasir, keluarga yasir kisah keluarga penghuni surga,  arti sumayyah, sumayyah qoriah, 
Read more

Kisah Shafiyah binti Abdul Muththalib Ra.a Lengkap

Kisah Shafiyah binti Abdul Muththalib Ra.a Lengkap, biografi shafiyyah binti abdul muthalib, shafiyyah binti huyay, shafiyyah artinya, kecantikan shafiyah binti huyay, sofia istri nabi, arti nama shafiyah, shafiyyah binti huyay almanhaj, cerita istri nabi sofia,
Kisah Shafiyah binti Abdul Muththalib Ra.a Lengkap
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Kisah Shafiyah binti Abdul Muththalib Ra.a Lengkap - alhamdulillah sanak, sekarang saya mau posting lagi nih, jarang update saya karena sekarang lagi sibuk urdu(urusan dunia) hehehe. Banyak x gaya abang ini pakai basa basi segala :p oke kita kembali ke topik pembahasan, saya akan posting kisah shahabiyyah Kisah Shafiyah binti Abdul Muththalib Ra.a, banyak orang tidak menyukai kisah kisah orang terdahulu karena tidak sesusai hawa nafsu mereka saja. mayoritas umat islam didunia ini mencontoh kehidupan orang yahudi, nasrani, mereka bangga dan ria, padahal disana tidak ada manfaat apapu melainkan hanya kerugian saja. Baiklah saya akan langsung saja ini dia :

Nama lengkapnya adalah Shafiyyah binti Abdul Muththalib bin Hisyam bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiyah al-Hasyimiyah. Beliau adalah bibi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, saudari dari singa Allah Hamzah bin Abdul Muththalib. Beliau juga seorang ibu dari sahabat agung, yaitu Zubair bin Awwam.

Shafiyyah ra tumbuh di rumah Abdul Muththalib, pemuka Quraisy dan orang yang memiliki kedudukan yang tinggi, terpandang, dan mulia. Dialah yang dipercaya untuk mengurus pendatang yang berhaji.

Seluruh aktifitas tersebut membekas pada diri Shafiyyah ra, sehingga membentuk kepribadian beliau yang kuat. Beliau adalah seorang wanita yang fasih lisannya dan ahli bahasa. Seorang cendekiawan dan penunggang kuda yang pemberani. Beliau ra termasuk wanita yang awal dalam mengimani putra saudaranya yang jujur dan terpercaya yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan bagus keislamannya. Beliau berhijrah bersama putranya yang bernama Zubeir bin Awwam untuk menjaga keislamannya.

Shafiyyah ra menyaksikan tersebarnya Islam dan turut andil dalam menyebarkannya. Sungguh jihad merupakan darah dagingnya. Oleh karena itu, beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan pada hari Uhud menjadi pelopor bagi para wanita yang ikut keluar untuk membantu para mujahidin dan mengorbankan semangat mereka untuk bertempur, disamping beliau juga mengobati mujahidin yang luka-luka di antara mereka.

Tatkala takdir Allah menghendaki kaum muslimin terpukul mundur karena pasukan pemanah menyalahi perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai panglima, maka banyak pasukan yang berpencar dari Rasullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Namun, Shafiyyah tetap berdiri dengan berani, sedangkan di tangannya menggenggam tongkat dan beliau pukul wajah orang-orang yang mudurdari peperangan seraya berkata, “Kalian hendak meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam?”

Manakala Shafiyyah mengetahui kesyahidan saudaranya, Hamzah bin Abdul Muththalib ra, yang dijuluki singa Allah yang dibunuh dengan sadis, maka Shafiyyah memberikan teladan yang agung bagi kita dalam hal kesabaran, ketabahan, dan ketegaran. Beliau sendiri mengisahkan kepada kita apa yang beliau saksikan, beliau berkata:

“Pada hari terbunuhnya Hamzah, Zubeir menemuiku dan berkata, ‘Wahai ibunda, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menyuruh anda agar kembali’. Beliau menjawab, ‘Mengapa? Sungguh telah sampai kepadaku tentang dicincangnya saudaraku, namun dia syahid karena Allah, kami sangat ridha dengan apa yang telah terjadi, sungguh aku akan bersabar dan tabah insya Allah. Setelah Zubeir ra memberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tentang komentarku beliau bersabda, ‘Berilah jalan baginya…!’ Maka aku mendapatkan Hamzah dan tatkala aku melihatnya aku berkata, ‘Inna Lillahi wa inna ilaihi Raji’un, kemudian aku mohonkan ampun baginya, setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk menguburkannya’.”
Gambaran lain dari Shafiyyah sang mujahidah dan penunggang kuda ini adalah tatkala terjadi Perang Khandaq saat pasukan Yahudi mencoba menyerang tempat kaum wanita ketika itu para wanita muslimah dan anak-anak berada dalam sebuah benteng. Di sana ada juga Hassan bin Tsabit ra. Tatkala ada orang Yahudi mengelilingi benteng, sedangkan kaum muslimin sedang menghadapi musuh, maka berdirilah Shafiyyah ra dan berkata kepada Hassan, “Sesungguhnya lelaki Yahudi ini menjadikan kita tidak aman, karena mereka akan mengetahui kekurangan kita, maka berdirilah dan bunuhlah ia. Kemudian, Hassan berkata, ‘Semoga Allah mengampuni anda, sungguh anda mengetahui bahwa seperti itu bukanlah keahlian saya’.”

Ketika Shafiyyah mendengar jawaban Hassan, beliau langsung bangkit dan penuh semangat yang ada di jiwanya, beliau mengambil tongkat yang keras kemudian turun dari benteng. Beliau menunggu kesempatan lengahnya orang Yahudi tersebut lalu beliau memukulnya tepat pada ubun-ubun secara bertubi-tubi hingga dapat membunuhnya. Beliau memang “wanita pertama yang membunuh laki-laki”. Beliau kembali ke benteng dan tersirat kegembiraan pada kedua matanya, karena mampu menghabisi musuh Allah yang berarti pula menjaga rahasia persembuyian para wanita dan kaum muslimah dari mereka. Kemudian beliau berkata kepada Hassan, “Turunlah dan lucutilah dia, sebab tiada yang menghalangi diriku untuk melucutinya melainkan karena dia seorang laki-laki.” Hassan berkata: “Saya tidak berkepentingan untuk melucutinya wahai binti Abdul muththalib.”

Begitulah kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam perang ini dengan jiwa yang beriman dan pemberani yang tidak kenal istilah mustahil dalam meraih jalan kemenangan.
Tatkala Perang Khaibar, Shafiyyah ra keluar bersama kaum muslimah untuk memompa semangat pasukan kaum muslimin. Mereka membuat perkemahan di medan jihad untuk mengobati pasukan yang terluka karena perang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam merasa senang dengan peran para mujahidah sehingga mereka juga mendapatkan bagian dari rampasan perang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam mencintai bibinya, Shafiyyah ra, dan memuliakan beliau serta memberikan kepada beliau bagian yang banyak. Tatkala turun ayat: “Wa andzir ‘Asyiratakal aqrabin’ (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat).” (As-Syura: 214).

Beliau bersabda, “Hai Fathimah binti Muhammad, hai Shafiyyah binti Abdul Muththalib, wahai Bani Abdul Muththalib, aku tidak kuasa menolong kalian dari siksa Allah. Mintalah kepadaku apa saja yang ada padaku.”

Shafiyyah mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak kecil dan mengikutinya. Beliau takjub dengan keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan akhirnya mengimani kenabian beliau, menyertai beliau dalam peperangan, dan merasa sedih tatkala wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam yang beliau ungkapkan dengan sya’irnya yang indah:
Wahai mata, tampakkanlah air mata dan janganlah tidurTangisilah sebaik-baik manusia yang telah tiadaTangisilah al-Musthofa dengan tangisan yang sangatYang masuk ke dalam hati laksana terkena pukulanNyaris aku tinggalkan hidup tatkala takdir datang padanyaYang telah digariskan dalam kitab yang muliaSungguh beliau pengasih kepada sesama hambaRahmat bagi mereka dan sebaik-baik Pemberi petunjukSemoga Allah meridhainya tatkala beliau hidup dan matiDan membalasnya dengan Jannah pada hari yang kekal
Shafiyyah hidup sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dengan penuh kewibawaan dan dimuliakan. Semua orang mengetahui keutamaan dan kedudukan beliau. Hingga tatkala beliau wafat pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab umur beliau mencapai lebih dari 70 tahun.

Sumber: kitab Nisaa’ Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy

Kisah Shafiyah binti Abdul Muththalib Ra.a Lengkap, biografi shafiyyah binti abdul muthalib, shafiyyah binti huyay, shafiyyah artinya, kecantikan shafiyah binti huyay, sofia istri nabi, arti nama shafiyah, shafiyyah binti huyay almanhaj, cerita istri nabi sofia.

Semoga apa yang saya posting didunia maya ini bermanfaat, semoga allah tidak menghisab saya karena postingan ini, dan semoga antum yang membaca bisa mengabil kisah hikmah diatas.

Read more

Kisah Raihanah binti Zaid Bin Amru Ra.a Lengkap


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
 Kisah Raihanah binti Zaid Bin Amru Ra.a Lengkap - Alhamdulillah allah ta'ala masih memberikan taufik kepada saya untuk menulis artikel tentang teladan wanita yang hidup pada masa nabi Muhammad SAW. Semoga kita selalu berada dalam ketaatan dan memegang teguh sunah beliau SAW. Baik langsung saja baca Kisah Raihanah binti Zaid Bin Amru Ra.a Lengkap.

Para perawi hadits berselisih pendapat tentang kehidupan Raihanah. Selain itu, tidak banyak riwayat yang menjelaskan istri Rasulullah yang satu ini. Permasalahan berpusat pada data apakah Rasulullah membebaskannya kemudian menikahinya atau beliau hanya menjadikannya sebagai budak? Sebagian riwayat mengatakan bahwa Raihanah termasuk salah seorang istri beliau, namun riwayat lain mengatakan bahwa dia bukan istri beliau.

Agar permalahannya jelas, berikut ini dipaparkan perjalanan hidup Raihanah. Di dalam Thabaqat yang diriwayatkan Ibnu Saad, dikatakan bahwa Raihanah sendiri berkata, “Ketika Bani Quraizhah ditawan, saya termasuk yang dihadapkan kepada Rasulullah. Beliau menyuruhku menyendiri karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. memiliki hak sebagai pemilih pertama atas rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin. Ketika aku menyendiri, Allah memberiku petunjuk. Beliau mengirirnku ke rumah Urnrnul-Mundzir binti Qais untuk beberapa hari. Beliau mernanggilku dan rnenyuruhku duduk di hadapannya seraya herkata, ‘Jika engkau memilih Allah dan Rasul-Nya maka Rasul-Nya akan memilihmu untuk dirinya.’ Aku menjawab, ‘Aku telah memilih Allah dan Rasul-Nya.’ Ketika aku memeluk Islam, beliau membebaskan dan menikahiku. Kernudian beliau memberiku dua belas uqiyah dan satu nasya sebagaimana beliau berikan kepada istri-istri lainnya, kemudian melangsungkan pernikahan denganku di rumah Ummul-Mundzir. Beliau memberi bagian kepadaku sebagaimana terhadap istri-istri lainnya, dan beliau menyuruhku memakai hijab.”

Nama lengkapnya Raihanah adalah Raihanah binti Zaid bin Amru Khunaqah bin Syam’un bin Zaid dan Bani Nadhir. Suaminya, al-Hakam, berasal dan Bani Quraizhah. Di dalam kitab As-Samthust-Tsamin fii Manaqih Ummahatul-Mukminin (Perangkai Mutiara Berharga dalam Keunggulan Istri-istri Nabi), Ath-Thabari rneriwayatkan, “Muhammad bin Umar mengabarkan kepada kami bahwa Abdullah bin Ja’far bin Yazid ibnul-Haad mengabarkan kepada kami, dari Tsa’labah bin Abi Malik, ‘Raihanah binti Zaid bin Amru bin Khunaqah dari Bani Nadhir bersuarnikan seseorang dari kalangan mereka yang bernama al-Hakam. Ketika Bani Quraizhah ditawan, Rasulullah rnenawannya, kemudian membebaskannya dan menikahinya hingga dia meninggal di sisinya.” Di dalam kitab ini pun disebutkan bahwa Muhammad bin Umar mengabarkan kepada karni, Shaleh bin Ja’far mengabarkan dari Muhammad bin Kaab, “Raihanah termasuk yang Allah bebaskan. Dia adalah wanita cantik dan menawan. Ketika suaminya terbunuh, dia berada dalam tawanan. Dia menjadi bagian Rasulullah pada hari penaklukan Bani Quraizhah. Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassalam. memberinya pilihan antara Islam dan tetap dalam agamanya, dan ternyata dia memilih Islam. Rasulullah membebaskannya kemudian menikahi dan memberikannya hijab. Suatu waktu dia sangat cemburu kepada Rasulullah sehingga beliau menceraikannya. Akibat percerainnya, dia tidak dapat tidur dan sangat bersedih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menemui dan merujuknya kembali sehingga dia tetap bersama Rasulullah hingga meninggal dunia sebelum Rasulullah wafat.”

Di dalam riwayat lain dalam buku yang sama disebutkan bahwa Raihanah tidak termasuk istri-istri Rasulullah. Abdul Malik bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, dari Ayyub bin Abdur-Rahman bin Sha’shaah, dari Ayyub bin Basyir al-Mu’awy, “Ketika Bani Quraizhah ditawan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. mengirim Raihanah ke rumah Salma binti Qais atau yang dikenal dengan sebutan Ummul-Mundzir. Dia tinggal bersamanya hingga datang haid sekali lalu suci dari haidnya itu. Ummul-Mundzir memberi kabar kepada Rasulullah. Beliau mendatanginya di rumah Ummul Mundzir, dan berkata, ‘Jika kamu suka, aku akan membebaskanmu lalu menikahimu, niscaya akan aku lakukan. Dan jika kamu suka, aku akan menjadikanmu sebagai budakku.’ Dia menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku lebih suka menjadi budakmu. Hal itu lebih meringankan bagiku dan bagimu.’ Lalu dia tetap menjadi budak beliau dan digauli sebagai budak hingga akhir hayatnya.”
Demikianlah sekilas riwayat Raihanah binti Zaid bin Amru. Dalam hal kami (penulis buku) tidak terlalu menganalisis riwayat-riwayat yang lain, hanya saja kami sudah meyakini kesepakatan para perawi hadits tentang wafatnya Raihanah semasa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mengasihi dan meridhainya. Amin.
Sumber: Kitab Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh
Kisah Raihanah binti Zaid Bin Amru Ra.a Lengkap, raihanah artinya, buah raihanah, nama nama shahabiyah,Kisah shahabiyah Raihanah binti Zaid Bin Amru
Read more

Kisah Rubai bin Ma'udz Ra.a Lengkap

Kisah Rubai bin Ma'udz Ra.a Lengkap, Kisah Teladan: Rubai binti Ma'udz, Rubai binti Ma'udz radhiyallahu 'anha,
Kisah Rubai bin Ma'udz Ra.a Lengkap

Kisah Rubai bin Ma'udz Ra.a Lengkap - Masyallah, segala puji bagi allah yang melimpahkan taufik dan rahmat yang besar untuk hamba yang banyak dosa ini, semoga semua dosa hamba allah yang menulis ini diampuni saat berhadapan dengan-NYA nanti di hari hisab, sekarang saya akan menuliskan Kisah tentang teladan wanita dizaman nabi SAW yang bernama  Rubai bin Ma'udz

Nama sebenarnya adalah Ruba’i bin Ma’udz bin al-Haris bin Fifa’ah bin al-Haris bin Sawad bin Malik bin Ghanam bin Malik al-Anshariyah an-Najariyah. Ibu beliau Ummu Yazid binti Qais bin Za’wa’ bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin an-Najar.

Ruba’i ra termasuk angkatan pertama yang masuk Islam, sungguh nampak ketulusan imannya dan kokohnya keyakinannya tatkala beliau berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam di bawah sebuah pohon, itulah bai’at yang diberi nama dengan baitur ridhwan. Sehingga, beliau termasuk orang yang sukses mendapatkan keridhaan dari Allah sebagaimana yang difirmankan Allah, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bahwah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Fath: 18 — 19).

Rubai binti Ma’udz termasuk sahabiyah agung yang dibina oleh Islam dan kemudian turut andil dalam kehidupan Islamiyah dan mereka terjun dalam membina masyarakat Islam yang agung. Beliau turut berperang di jalan Allah dengan menjaga batas-batas yang telah disyariatkan oleh Islam. Beliau berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan meriwayatkan hadis dari beliau dan adalah beliau seorang wanita yang pandai tentang urusan diennya.

Kaum muslimin mengakui kemampuan beliau, bahkan para sahabat senior bertanya kepada beliau dalam perkara dien, dan beliau telah menggambarkan tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir bertanaya kepada Rubai, “Gambarkanlah sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam kepadaku!” Beliau menjawab, “Wahai anakku, seandainya engkau melihatnya maka seolah-olah engkau melihat matahari terbit.” (Al-Ishabah VIII/267, ath-Thabaqat VIII/279, dan sh-Shaum II/248).

Beliau juga yang telah meriwayatkan tentang sifat wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagaiamana yang dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya dari Rubai berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mendatangi kami dan berbincang-bincang dengan kami dan beliau bersabda, “Tuangkanlah air agar aku berwudhu dengannya.” Kemudian Rubai menyebutnya wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau berkata, “Maka beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga akali….” (Al-Ishabah dalam Tamyizish Shahabah VIII/80).

Rubai melanjutkan, “Maka aku kembalikan seluruh barang yang menjadi miliknya selain baju besiku, namun ia menggugatkan dalam hal itu di hadapan Utsman, beliau berkata, “Itu adalah termasuk syarat!” maka aku kembalikan barang tersebut kepadanya.”

Adapun peran serta beliau dalam berjihad bersama kaum muslimin tidak perlu diragukan lagi. Rubai berperang bersama kaum muslimin. Beliau bertugas menyiapkan minuman bagi pasukan dan membantu mereka serta membawa orang yang terbunuh maupun terluka ke Madinah. Beliau melengkapi kepahlawanan para pasukan Islam di medan tempur dengan seluruh apa-apa yang menyebabkan timbulnya kekuatan pada diri mereka, baik berupa motivasi, bekal, dan lain-lain. Apabila beliau telah mencukupi urusan mereka, beliau naik kuda beliau lalu menyerang musuh-musuh Allah dengan anak panah yang beliau arahkan ke leher mereka dan beliau berusaha melawan tipu daya mereka. (Al-Ishabah VIII/80 dan ath-Thabaqat VIII/447). Semoga menjadi teladan untuk wanita wanita islam di akhir zaman ini

Kisah Rubai bin Ma'udz Ra.a Lengkap, Kisah Teladan: Rubai binti Ma'udz, Rubai binti Ma'udz radhiyallahu 'anha.
Read more