Ternyata Dunia dibagi 5 (lima) Zaman Sebelum Hari Kiamat

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

ernyata Dunia dibagi 5 (lima) Zaman Sebelum Hari Kiamat - Alhamdulillah, sayang menulis hanya untuk mengingatkan saudara saudara seiman yang suka main android aja, sebenarnya ini yang saya tulis ini bukanlah dakwah cara rasulullah SAW, tapi minimnya website yang menulis tentang bagaimana cara memperbaiki tauhid umat akhir zaman ini hingga saya salin dari buku khuruj fi sabillah revisi ke 7, saya hanya menulis dari buku dan untuk postingan saat ini saya menyediakan tentang Ternyata Dunia dibagi 5 (lima) Zaman Sebelum Hari Kiamat selamat membaca dan bertaubad.


Rasulullah saw. bersabda: "Awal dari agama kalian adalah kenabian (Nubuwwah), dan rahmat, dan terjadi pada kalian apa yang dikehendaki Allah swt untuk terjadi, lalu Allah Yang Maha Besar mengangkatnya. Setelah itu terjadi masa kekhalifahan yang sesuai dengan manhaj nubuwwah (sistem kenabian) pada kalian sesuai yang dikehendaki Allah swt, lalu Allah swt mengangkatnya. Lalu datang kerajaan (al Mulk) yang menggigit (berpegang pada agama) akan berbuat sesuai yang dikehendaki Allah swt untuk terjadi, lalu Allah mengangkatnya. Setelah itu datang raja yang tirani (penguasa dzalim dan kejam) akan berbuat apa yang dikehendaki Allah swt untuk terjadi, lalu Allah swt mengangkatnya. Selanjutnya muncul kekhalifahan diatas manhaj nubuwwah, yang memberlakukan sunah Nabi (jalan hidup Nabi) kepada manusia, dan meletakan beban Islam di bumi yang diridhoi oleh penduduk langit dan bumi. Kalian tidak meminta langit untuk menetes, kecuali akan turun hujan deras, dan kalian tidak meminta sesuatu dari tanah untuk menumbuhkan berbagai tanaman dan berkahnya, melainkan ia akan mengeluarkannya." (HR Ahmad dan Thabrani)

Lima zaman itu adalah:

1. Zaman Nubuwwah, yaitu sejak nabi Adam as hingga khataman nabiyin, Muhammad saw.

2. Zaman Khilafah, yaitu zaman khulafaur rasyidin sepanjang 30 tahun sejak Rosulullah saw wafat.

3. Zaman al Mulk (raja-raja), zaman ini berakhir ketika jatuhnya Daulah Ustmaniyah di Turki.

4. Zaman Jababirah, yaitu jaman dimana manusia berkeinginan memiliki kebebasan (liberalisme). Manusia tidak mau diatur oleh hukum, berlangsung hingga saat ini.

5. Zaman Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah, zaman ini akan datang kembali dengan ditandai dengan wujudnya suasana kehidupan agama sebagaimana kehidupan Rosulullah saw dan Sahabat r.a.hum dalam kehidupan umat (masyarakat).

Sebelum zaman yang ke- 5 datang, sebelumnya didahului dengan dakwah 'ala minhajin nubuwwah. Kerja Nubuwwah akan menyambut datangnya zaman ini. Apabila umat melaksanakan kerja Nubuwwah, sehingga terwujud kehidupan masyarakat sebagaimana Sahabat r.a.hum.

Ternyata Dunia dibagi 5 (lima) Zaman Sebelum Hari Kiamat, 5 fase akhir zaman, 5 zaman sebelum kiamat, 5 periode islam, 5 fase kehidupan manusia menurut islam, 5 fase kepemimpinan dalam islam, umur umat islam tidak lebih dari 1500 tahun, Tanda akhir zaman, tanda hari kiamat, perkara iman, dakwah islam
Read more

Kisah Asiah Binti Mazahim Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Kisah Asiah Binti Mazahim Istri firaun Lengkap, istri firaun yang dijamin masuk surga, istri firaun yang mengasuh nabi musa, wajah istri firaun, nama nama istri firaun, asiah binti muzahim, nama istri firaun zaman nabi musa, istri firaun ramses 2, istri firaun cleopatra,   Asiyah Binti Mazahim
Kisah Asiah Binti Mazahim Lengkap
Kisah Asiah Binti Mazahim Lengkap - Alhamdulillah, banyak banyak bersyukur saya kepada allah SWT karena masih memberikan taufik untuk menggerakan hati saya menulis kisah kisah islami untuk contoh wanita wanita diakhir zaman agar memiliki iman sekuat Asiah Binti Mazahim Untuk kisah yang lebih lengkap mari langsung saja simak kisahnya dibawah ini :

Telah diceritakan bahwa dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun ditentang oleh Fir’aun dan para pengikutnya. Fir’aun meminta bukti yang menguatkan bahwa Nabi Musa memang benar utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, Nabi Musa ‘alaihissalam menunjukkan sebagian mukjizat beliau. Namun, Fir’aun justru mengejek bahwa itu semua adalah sihir dan menantang Nabi Musa untuk mengadu kekuatan sihir pada hari yang disepakati.

Seluruh rakyat, baik dari bangsa pribumi (Qibti) maupun Bani Israil, sama menunggu dengan hati berdebar-debar, siapa yang akan memenangi adu kekuatan antara sihir antek Fir’aun dan mukjizat Nabi Musa.

Setelah para tukang sihir dari seluruh wilayah kerajaan berkumpul, mereka menantang Nabi Musa agar melemparkan apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, Nabi Musa ’alaihissalam menyuruh mereka agar melemparkan lebih dahulu. Mereka pun melempar tali dan tongkat mereka masing-masing ke hadapan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
قَالَ أَلۡقُواْۖ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ سَحَرُوٓاْ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ١١٦ ۞وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ ١١٧
“Musa menjawab, ‘Lemparkanlah (lebih dahulu)!’ Tatkala mereka lemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).
Kami pun mewahyukan kepada Musa, ‘Lemparkanlah tongkatmu!’, maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (al-A’raf: 116—117)
Nabi Musa sempat merasa takut. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan bahwa beliau akan menang, lalu memerintahkan agar beliau segera melemparkan tongkat beliau. Dengan seketika, tongkat Nabi Musa menelan semua tali dan tongkat yang dilemparkan oleh para tukang sihir tersebut.

Para tukang sihir itu kalah telak. Namun, mereka mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Musa bukanlah sihir, tidak sama dengan apa yang mereka perbuat. Oleh karena itu, mereka segera bersujud sambil bersaksi, “Kami beriman kepada Rabb Musa dan Harun (yaitu Allah subhanahu wa ta’ala).”

Di dalam istana, Asiah menunggu-nunggu berita tentang siapakah yang menang. Setelah diberitahu bahwa putra angkatnyalah yang menang, dia pun bersaksi menyatakan keimanannya.

Itulah kemuliaan yang ditakdirkan oleh Allah untuknya. Bisa jadi, salah satu sebabnya adalah dia telah melindungi dan menyayangi Nabi Musa sejak bayi. Semoga Allah meridhainya.

Asiah berusaha menyembunyikan keimanannya serapat-rapatnya dari suami dan para tentaranya. Selama beberapa waktu, sang suami sama sekali tidak mengetahui bahwa istrinya telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Adalah sunnatullah bahwa setiap orang yang telah menyatakan dirinya beriman pasti menghadapi berbagai cobaan terhadap keimanannya. Dengan ujian itu, iman itu akan disaring, jujur ataukah dusta, kuat ataukah lemah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣
 “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 1—3)
Suatu ketika, Fir’aun mengetahui juga bahwa istrinya, Asiah, telah beriman kepada bekas anak angkat mereka yang kini menjadi Rasul Allah. Fir’aun curiga, jangan-jangan inilah anak laki-laki Bani Israil yang akan menghancurkan dia dan kerajaannya. Mengingat hal ini, semakin memuncaklah kemarahannya, lebih-lebih terhadap istrinya, Asiah.

Fir’aun menganggap istrinya itulah yang menjadi biang keladi semua ini. Kalau dahulu dia membiarkan Fir’aun membunuh bayi itu, tentu tidak begini jadinya. Akan tetapi, takdir Allah subhanahu wa ta’ala Yang Mahakuasa siapa yang dapat menduga?

Begitu melihat Musa yang tergolek di dalam tabut yang hanyut di atas gelombang air, Asiah, istri Fir’aun, segera jatuh cinta, merasa sayang dan suka kepadanya. Hal itu pun menjadi sebab kebahagiaannya karena memperoleh hidayah. Tidak demikian halnya suaminya yang durjana.

Itulah kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang tiada satu makhluk pun dapat melepaskan diri darinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِذۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّكَ مَا يُوحَىٰٓ ٣٨ أَنِ ٱقۡذِفِيهِ فِي ٱلتَّابُوتِ فَٱقۡذِفِيهِ فِي ٱلۡيَمِّ فَلۡيُلۡقِهِ ٱلۡيَمُّ بِٱلسَّاحِلِ يَأۡخُذۡهُ عَدُوّٞ لِّي وَعَدُوّٞ لَّهُۥۚ وَأَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَبَّةٗ مِّنِّي وَلِتُصۡنَعَ عَلَىٰ عَيۡنِيٓ ٣٩
 ﭧ “Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, ‘Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku pun telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (Thaha: 38-39)
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa setiap orang yang melihat Nabi Musa akan segera menyukai beliau. Tidaklah beliau beralih dari satu keadaan ke keadaan lainnya dalam asuhan keluarga istana, melainkan di bawah pengawasan dan pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala Maha Melakukan apa yang diinginkan-Nya, tidak ada satu pun yang dapat menentang-Nya.

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala hendak memuliakan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang diinginkan-Nya, Dia menakdirkan bahwa bayi suci keluarga ‘Imran itu justru dipungut oleh keluarga istana dan menjadi anggota mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
فَٱلۡتَقَطَهُۥٓ ءَالُ فِرۡعَوۡنَ لِيَكُونَ لَهُمۡ عَدُوّٗا وَحَزَنًاۗ
 “Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (al-Qashash: 8)
Menurut Ibnu Ishaq, lam di sini adalah lam ‘aqibah (bermakna “akibat”), bukan lam ta’lil (bermakna “agar, supaya”). Sebab, mereka tidak ingin memungut Nabi Musa supaya beliau menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Akan tetapi, menurut Ibnu Katsir, apabila diperhatikan makna susunan kalimatnya, lam tersebut tetap sebagai lam ta’lil. Sebab, maksud ayat ini ialah Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan mereka akan memungut beliau untuk menjadikan beliau sebagai musuh dan kesedihan bagi mereka. Dengan demikian, hal ini lebih sempurna dalam menggugurkan kekhawatiran mereka. Oleh karena itu pula, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ وَجُنُودَهُمَا كَانُواْ خَٰطِ‍ِٔينَ ٨
 “Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (al-Qashash: 8)
sehingga sangat pantaslah mereka menerima hukuman dan penyesalan tersebut.[1]

Kemurkaan dan dendam Fir’aun semakin memuncak, lebih-lebih setelah mengetahui bahwa istrinya, Asiah bintu Muzahim, benar-benar sudah beriman kepada bekas anak angkatnya, Musa bin ‘Imran ‘alaihissalam. Akhirnya, setiap hari Asiah dijemur di bawah terik matahari. Namun, setiap kali dia ditinggal sendirian oleh Fir’aun, para malaikat datang menaunginya dengan sayap-sayap mereka.

Bosan dengan satu jenis siksaan, Fir’aun memerintahkan prajuritnya mencari batu besar untuk dilemparkan ke tubuh Asiah yang sedang dijemur.

“Tanyai dia! Kalau dia tetap beriman, lemparkan batu itu ke tubuhnya. Kalau dia menarik ucapannya, dia tetap sebagai istriku.”

Ternyata, Asiah tetap berpegang pada keimanannya. Fir’aun dan beberapa pembesarnya melihat ke arahnya yang tersenyum. Mereka pun terheran-heran, “Sudah gila dia rupa-rupanya. Kita siksa dia dengan hebat, dia malah tersenyum.”

Ahli tafsir menyebutkan bahwa Asiah tersenyum karena doanya dikabulkan oleh Allah. Sebuah rumah dari permata putih sudah disediakan untuknya di dalam surga. Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkannya dari keganasan Fir’aun dan tentaranya. Allah mencabut ruhnya, menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun. Batu besar yang disiapkan untuk meremukkan tubuh Asiah akhirnya dilemparkan juga, tetapi hanya menimpa seonggok jasad yang sudah kaku.

Ruh wanita yang mulia ini telah sampai di sisi Khaliqnya.

Keimanan Asiah dan keberadaannya bersama Fir’aun menjadi ibrah bagi kaum wanita yang datang sesudahnya. Asiah hidup di atas keimanan yang sempurna, keteguhan yang utuh, dan selamat dari ujian. Oleh karena itu, sangatlah pantas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutkan dalam sabda beliau,
كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ؛ وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
“Yang mulia dari kalangan pria itu banyak, tetapi tidak ada yang sempurna dari kalangan wanita selain Asiah, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran; dan sesungguhnya keutamaan ‘Aisyah di atas kaum wanita seperti keistimewaan tsarid daripada semua makanan.”[2] HR. al-Bukhari dan Muslim
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengabadikan kisahnya sebagai sebuah contoh nyata bagi orang-orang yang beriman,

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ١١

 “Allah menjadikan istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (at–Tahrim: 11)

Demikianlah perumpamaan yang dibuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk orang-orang yang beriman, bahwa hubungan keluarga atau kekerabatan dengan orang-orang kafir tidak memudaratkan mereka, tidak mengurangi pahala mereka, dan tidak merusak kedekatan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, selama mereka menjalankan kewajiban mereka.

Kedudukan Asiah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala tidak berubah meskipun dia adalah istri musuh-Nya yang paling berani mengucapkan kata-kata yang sangat buruk.

Beberapa Hikmah

Dari kisah ini kita dapat memetik beberapa hikmah, di antaranya sebagai berikut.

Tidak dapat diingkari bahwa al-Qur’anul Karim memberikan banyak perumpamaan dalam membimbing manusia. Akan tetapi, perumpamaan-perumpamaan tersebut tidak dapat dimengerti selain oleh orang-orang yang berilmu.
Perumpamaan yang dipaparkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat at-Tahrim ini telah memberikan pengaruh yang luar biasa, yang terlihat nyata dalam kehidupan dua ibunda orang-orang yang beriman, yaitu ‘Aisyah dan Hafshah, serta yang lainnya.[3]
Kejahatan dan kezaliman Fir’aun tidak menghalangi Asiah untuk mengatakan, “Aku beriman kepada Rabb Musa dan Harun (yaitu Allah subhanahu wa ta’ala).”
Keimanan yang meresap ke dalam hati Asiah adalah keimanan yang sejati, tidak goyah oleh terpaan badai dan godaan atau cobaan apa pun. Hal ini terlihat ketika dia dengan tabah menerima siksaan dari suaminya sendiri. Asiah tidak meminta keringanan, tetapi berdoa kepada Allah agar dibuatkan rumah untuknya di dalam surga.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, seorang wanita yang bersabar menghadapi keburukan akhlak suami akan diberi pahala oleh Allah seperti yang diberikan-Nya kepada Asiah. Wallahu a’lam.


[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

[2] HR. al-Bukhari (no. 3411) dan Muslim (no. 2431).

sumber : qonitah,com


Kisah Asiah Binti Mazahim Istri firaun Lengkap, istri firaun yang dijamin masuk surga, istri firaun yang mengasuh nabi musa, wajah istri firaun, nama nama istri firaun, asiah binti muzahim, nama istri firaun zaman nabi musa, istri firaun ramses 2, istri firaun cleopatra,   Asiyah Binti Mazahim
Read more

Kisah Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah R.a Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Kisah Sahabat Rasulullah SAW Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah R.a Lengkap, biografi lengkap abu ubaidah bin jarrah, biografi abu ubaidah bin jarrah, abu ubaidah bin al-jarrah yazid ibn al-jarrah, abu ubaidah bin al jarrah ubaidah ibn al jarrah, kisah singkat abu ubaidah bin jarrah, Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah, Abu Ubaidah Ibn Al Jarrah, Kisah Dakwah Islam, Dakwah Perkara Iman.
Kisah Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah R.a Lengkap
Kisah Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah R.a Lengkap Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah
(‘Amir bin Abdullah bin Al Jarrah) - Alhamudulillah, yang menciptakan langit dan bumi tanpa tiang dan tali penyanggah, yang telah memberikan taufik kepada saya untuk menulis kisah sahabat Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah R.a Lengkap

Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah
(‘Amir bin Abdullah bin Al Jarrah)
“Setiap Ummat Memiliki Orang yang Amin (Terpercaya), dan Amin
Ummat ini Adalah Abu Ubadah” (Muhammad Rasulullah)
Dia memiliki wajah yang tenang. Paras yang berwibawa. Badan yang
kurus. Postur yang tinggi. Alis yang tipis... Sedap dipandang mata. Enak
untuk dilihat. Damai terasa di hati.
Dia juga adalah orang yang ramah. Suka rendah hati. Pemalu. Akan
tetapi dalam situasi serius ia bagai seekor singa yang menerkam.
Dia serupa dengan mata pedang yang begitu indah dan berkarisma, dan
juga tajam dan dapat membabat layaknya pedang.
Dialah Amin ummat Muhammad, ‘Amir bin Abdullah bin Al Jarrah Al
Fihry Al Qurasy yang dipanggil dengan nama Abu Ubaidah.
Abdullah bin Umar ra pernah mendeskripsikan sosoknya dengan
ucapannya: Tiga orang dari suku Quraisy yang paling terkemuka. Memiliki
akhlak yang paling baik. Paling pemalu. Jika mereka berbicara denganmu
maka mereka tidak akan berdusta. Dan jika engkau berbicara dengan
mereka, mereka tak akan mendustaimu. Ketiganya adalah: Abu Bakar As
Shiddiq, Utsman bin Affan dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Abu Ubaidah adalah termasuk orang pertama yang masuk ke dalam
Islam. Ia masuk Islam sehari setelah Abu Bakar. Ia memeluk Islam karena
jasa Abu Bakar. Abu Bakar mengajak Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf,
Utsman bin Mazh’un22 dan Al Arqam bin Abi Al Arqam datang menghadap
Nabi Saw dan menyatakan dihadapan Beliau kalimat kebenaran. Dan
mereka semua menjadi pilar pertama tempat dibangunnya kerajaan Islam
yang agung.
______________________________________________________________
22 Utsman bin Mazh’un: dia adalah seorang ahli hikmah pada masa Jahiliyah. Ia pernah turut
serta dalam perang Badr dan wafat pada tahun 2 H. Dia termasuk orang yang pertama dari kaum
Muhajirin yang meninggal di Madinah, dan termasuk orang pertama yang dikuburkan di Baqi.
______________________________________________________________
Abu Ubaidah mengalami pengalaman keras yang dirasakan kaum
muslimin selagi berada di Mekkah sejak pertama hingga akhir. Dia juga
merasakan penderitaan kaum muslimin pada masa-masa awal atas segala
penderitaan, sakit dan kesedihan yang tidak pernah dirasakan oleh para
pengikut agama di muka bumi ini. Namun ia tetap teguh menghadapi ujian
ini, dan senantiasa mentaati dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya dalam
segala kondisi.
Akan tetapi ujian yang diderita oleh Abu Ubaidah pada perang Badr
adalah sebuah penderitaan yang tidak dapat digambarkan oleh siapapun.

Ketika perang Badr, Abu Ubaidah menyerang di antara barisan dengan
begitu berani dan tak memiliki kegentaran sedikitpun. Kaum musyrikin jadi
takut dibuatnya. Ia berputar-putar di medan laga seolah tidak takut mati.
Para penunggang kuda suku Quraisy menjadi gentar dibuatnya dan mereka
berusaha menjauhi diri dari Abu Ubaidah setiap kali bertemu.
Akan tetapi ada seorang di antara mereka yang senantiasa mengajak
duel Abu Ubaidah ke mana saja ia pergi, dan Abu Ubaidah senidiri selalu
menjauhkan diri darinya.
Orang tersebut terus mendesak dan menyerang, sementara Abu
Ubaidah selalu menjauh darinya. Orang tersebut akhirnya menutup semua
jalan bagi Abu Ubaidah, dan berdiri membatasi ruang gerak Abu Ubaidah
sehingga tidak dapat membunuh musuh Allah lainnya.
Saat Abu Ubaidah sudah merasa geram, maka Abu Ubaidah
melayangkan pedangnya ke arah kepala orang tadi sehingga terbelah dua;
dan akhirnya orang itu tewas dihadapan Abu Ubaidah.
Tidak usah Anda –wahai pembaca yang budiman- menebak siapakah
orang yang tewas ini.
Bukankah sudah aku katakan bahwa pengalaman keras yang
dirasakannya sudah tak terbayangkan lagi?
Engkau akan pusing dibuatnya jika engkau mengetahui bahwa orang
yang tewasw adalah Abdullah bin Al Jarrah ayah dari Abu Ubaidah.

Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, akan tetapi ia membunuh
kemusyrikan yang berada dalam diri ayahnya.
Maka Allah Swt menurunkan sebuah ayat tentang Abu Ubaidah dan
ayahnya yang berbunyi:
_________________________________________________

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang
yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu
bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun
keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang
datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas
terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan
Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah
golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58] : 22)

Bagi Abu Ubaidah ini bukanlah sebuah hal yang menakjubkan.
Kekuatan imannya kepada Allah dan pembelaannya kepada agama, dan
amanah kepada ummat Muhammad telah mencapai sebuah posisi yang
dicita-citakan oleh sebuah jiwa yang besar di sisi Allah.
Muhammad bin Ja’far berkisah: Sebuah rombongan Nasrani datang
kepada Nabi Saw dan mereka berkata: “Wahai Abu Qasim, utuslah kepada
kami salah seorang sahabatmu yang kau sukai untuk memutuskan sebuah
perkara tentang harta kami yang membuat kami menjadi berselisih, karena
kalian wahai kaum muslimin adalah orang-orang yang kami sukai.”
Rasulullah Saw langsung menjawab: “Datanglah kepadaku malam hari,
nanti aku akan mengirimkan seorang yang kuat dan terpercaya kepada
kalian.” Umar bin Khattab berkata: “Maka aku pergi berangkat shalat
Zhuhur lebih awal. Dan aku tidak pernah berharap mendapatkan jabatan
pada hari itu kecuali pada hari itu agar aku menjadi orang yang ditunjuk
untuk menyelesaikan perkara ini. Begitu Rasulullah Saw menyelesaikan
shalat Zhuhurnya, Beliau melihat ke kanan dan ke kiri. Aku berusaha
meninggikan badanku agar terlihat olehnya. Ia tetap saja menyisirkan
pandangannya kepada kami sehingga Beliau melihat ke arah Abu Ubaidah
bin Al Jarrah. Beliau langsung memanggilnya seraya bersabda: ‘Pergilah
______________________________________________________________

kepada mereka. Putuskanlah perkara yang tengah mereka perselisihkan
dengan benar!’ dan akhirnya Abu Ubaidah pergi ke tempat mereka.”

Abu Ubaidah bukan saja merupakan orang yang amanah, akan tetapi ia
juga merupakan orang yang sanggup mengkombinasikan kekuatan dengan
amanah. Kekuatan yang dimilikinya ini sering kali muncul dalam banyak
kesempatan:
Suatu hari Rasulullah Saw mengutus sekelompok orang dari para
sahabatnya untuk mencegat sebuah kafilah suku Quraisy. Dan Rasulullah
Saw menunjuk sebagai Amir (pemimpin) mereka adalah Abu Ubaidah ra.
Rasulullah membekali mereka dengan sekantong kurma saja. Abu Ubaidah
memberikan hanya satu kurma saja kepada masing-masing sahabatnya
dalam sehari. Maka setiap orang menghisap kurma tersebut sebagaimana
seorang bayi menghisap payudara ibunya, kemudian mereka meminum air.
Dan semuanya merasa cukup dengan makanan seperti itu hingga malam
hari.

Dalam perang Uhud saat kaum muslimin mengalami kekalahan dan
kaum musyrikin mulai meneriakkan: “Tunjukkan kepadaku dimana
Muhammad! Tunjukkan kepadaku dimana Muhammad! Saat itu Abu
Ubaidah adalah salah seorang dari jamaah yang melindungi Rasulullah
Saw dengan dada mereka dari serangan tombok musyrikin.
Saat perang sudah usai, gigi geraham Rasulullah pecah. Kening Beliau
memar. Dan di pipi Beliau ada dua buah biji baja yang menempel. Maka
Abu Bakar As Shiddiq datang menghampiri Rasulullah Saw untuk
mencabut kedua biji bahwa tersebut dari pipi Beliau. Maka Abu Ubaidah
berkata kepada Abu Bakar: “Aku bersumpah kepadamu, biarkan aku saja
yang melakukannya.” Maka Abu Bakar pun membiarkan Abu Ubaidah
melakukannya. Lalu Abu Ubaidah merasa khawatir jika ia mencabut
dengan tangannya maka akan membuat Rasulullah Saw merasa sakit. Maka
Abu Ubaidah menggigit salah satu biji baja tadi dengan gigi serinya dengan
bergitu kuat. Ia berhasil mengeluarkan biji baja tersebut dan satu gigi
serinya pun ikut tanggal… Kemudian ia menggigit biji baja yang kedua
dengan gigi serinya yang lain, kali ini ia pun berhasil mengeluarkannya
dan satu giginya lagi-lagi ikut tanggal.
Abu Bakar berkata: “Abu Ubaidah adalah manusia yang paling bagus
dalam menanggalkan giginya.”


Abu Ubaidah turut serta bersama Rasulullah Saw semua peperangan
sejak ia mengenal Rasul hingga Beliau wafat.
_________________________________________________
Saat hari Tsaqifah23, Umar berkata kepada Abu Ubaidah: “Ulurkan
tanganmu agar dapat aku bai’at, sebab aku pernah mendengar Rasulullah
Saw bersabda: ‘Setiap ummat memiliki seorang Amin (orang yang
dipercaya), dan engkau adalah Amin ummat ini).”
Abu Ubaidah menjawab: “Aku tidak akan maju di hadapan seorang pria
yang diperintahkan Rasulullah Saw untuk menjadi imam kita dalam shalat,
dan kita mempercayainya sehingga Rasulullah Saw wafat.”
Kemudian Abu Bakar pun di bai’at. Dan Abu Ubaidah adalah penasihat
dan kawan Abu Bakar yang terbaik dalam masalah kebenaran.
Kemudian Abu Bakar menyerahkan khilafah setelahnya kepada Umar
bin Khattab. Abu Ubaidah juga tunduk dan taat kepada Umar. Ia tidak
pernah melanggar perintah Umar kecuali satu kali saja.
Apakah engkau tahu masalah apakah yang membuat Abu Ubaidah
melanggar perintah khalifah?!
Hal itu terjadi saat Abu Ubaidah bin Al Jarrah sedang memimpin
pasukan muslimin di negeri Syam dari satu kemenangan ke kemenangan
yang lain, sehingga Allah berkenan untuk menaklukkan semua daerah
Syam di bawah komandonya.
Pasukan yang dipimpinnya berhasil menaklukkan sungai Eufrat di
daerah timur dan Asia kecil di utara.
Pada saat itu di negeri Syam sedang mewabah penyakit Thaun yang
belum pernah diketahui oleh manusia saat itu sebelumnya; Penyakit
tersebut berhasil membunuh banyak manusia. Maka Umar bin Khattab
berinisiatif untuk mengutus seorang utusan kepada Abu Ubaidah dengan
membawa sebuah surat yang berbunyi: “Aku memerlukan bantuanmu
tanpa interupsi sedikitpun darimu. Jika suratku ini datang kepadamu pada
malam hari, maka dengan segera aku memintamu untuk datang kepadaku
tanpa perlu menunggu datangnya shubuh. Jika suratku ini datang
kepadamu pada waktu siang. Aku meminta segera kepadamu untuk datang
kepadaku tanpa perlu menunggu hingga senja tiba.”
Begitu Abu Ubaidah menerima surat dari Umar Al Faruq, ia berkata:
“Aku mengerti kepentingan Amirul Mukminin terhadap diriku. Ia
menginginkan agar aku tetap hidup meski yang lainnya binasa.” Lalu ia
menuliskan sebuah surat kepada Amirul Mukminin yang berbunyi: “Wahai
Amirul Mukminin, Aku mengerti kepentinganmu terhadap diriku. Aku kini
sedang bersama para tentara muslimin dan aku tidak ingin menjaga diriku
agar terhindar dari penyakit yang mereka derita. Aku tidak ingin
meninggalkan mereka sehingga Allah menentukan keputusannya bagi
diriku dan mereka. Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka
biarkanlah aku, dan izinkan aku untuk tetap tinggal di sini.”
______________________________________________________________
23Yang dimaksud dengan hari Tsaqifah adalah hari dimana Abu Bakar ra di baiat menjadi
khalifah. Pembaiatan ini terjadi di Tsaqifah Bani Sa’idah
______________________________________________________________
Begitu Umar membaca surat Abu Ubaidah, maka ia langsung menangis
dan matanya langsung sembab. Maka orang yang berada di sekelilingnya
bertanya –karena merasa heran dengan tangis Umar yang begitu keras-:
“Apakah Abu Ubaidah telah meninggal, wahai Amirul Mukminin?” Ia
menjawab: “Tidak, akan tetapi kematian telah mengintainya.”
Benar dugaan Umar, karena tidak lama kemudian Abu Ubaidah terkena
Thaun. Begitu ia menjelang kematian ia berwasiat kepada tentaranya: “Aku
berwasiat kepada kalian, jika kalian menerimanya kalian akan senantiasa
berada dalam kebaikan: Dirikanlah shalat, tunaikan zakat, jalankan puasa
Ramadhan, bersedekahlah, berhaji dan berumrahlah, saling wasiat, dan
taatlah kepada pemimpin kalian dan jangan kalian melanggarnya!
Janganlah dunia membuat kalian lalai. Karena meski seseorang diberi
umur 1000 tahun maka pastilah ia akan merasakan kondisi seperti yang
kalian lihat pada diriku ini.
Allah telah menetapkan kematian kepada anak Adam dan mereka
semua akan mati. Yang paling bijak di antara mereka adalah yang paling
taat kepada Tuhannya, dan yang paling mengerti akan hari pembalasan.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.”
Kemudian ia menoleh ke arah Muadz bin Jabal seraya berkata: “Ya
Muadz, imamilah manusia untuk shalat!”
Begitu ia menghembuskan nafas terakhirnya, maka Muadz pun berdiri
dan berseru: “Wahai manusia, kalian telah dibuat kaget oleh seorang pria
yang demi Allah aku tidak pernah tahu bahwa aku pernah melihat seorang
pria yang begitu lapang dadanya, senantiasa menjauhi kedengkian, dan
amat berpesan tentang ummat ini yang lebih baik darinya. Maka mohonlah
rahmat Allah baginya dan semoga Allah merahmati kalian!”

Untuk merujuk lebih jauh tentang profil Abu Ubaidah Al Jarrah
silahkan melihat:
1. Thabaqat Ibnu Sa’d: (Lihat Daftar Isi)
2. Al Ishabah 2/252 atau terjemah 4400
3. Al Isti’ab (dengan Hamisyh Al Ishabah): 3/2
4. Hilliyatul Auliya: 1/100
5. Al Bad’u wa At Tarikh: 5/87
6. Ibnu Atsakir: 7/157
7. Shifatus Shafwah: 1/142
8. Asyhar Masyahir Al Islam: 504
9. Tarikh Al Khamis: 2/244
10. Riyadhun Nadhrah: 307
________________________________________________

Kisah Sahabat Rasulullah SAW Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah R.a Lengkap, biografi lengkap abu ubaidah bin jarrah, biografi abu ubaidah bin jarrah, abu ubaidah bin al-jarrah yazid ibn al-jarrah, abu ubaidah bin al jarrah ubaidah ibn al jarrah, kisah singkat abu ubaidah bin jarrah, Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah, Abu Ubaidah Ibn Al Jarrah, Kisah Dakwah Islam, Dakwah Perkara Iman.
Read more

Kisah Abdullah Bin Jahsy R.a Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Kisah Sahabat Rasulullah SAW Kisah Abdullah Bin Jahsy R.a Lengkap, Kisah Abdullah Bin Jahsy Lengkap, Kisah Islam Abdullah Bin Jahsy, Kisah Dakwah Abdullah Bin Jahsy, Dakwah Islami, Dakwah Perkara Iman, Fantasy HD
Kisah Abdullah Bin Jahsy R.a Lengkap
“Orang Pertama yang Disebut sebagai Amirul Mukminin”

Kisah Abdullah Bin Jahsy R.a Lengkap - Alhamdulillah, Begitu banyak nikmat allah yang belum bisa kita syukuri karena kelalaian kita terhadap dunia ini, dunia yang membuat manusia terlena akan kenikmatan yang sedikit, Kisah Sahabat Rasulullah SAW Abdullah Bin Jahsy R.a Lengkap disini saya tuliskan secara lengkap dan padat. Semoga bermanfaat selamat membaca.

Tokoh sahabat yang akan kami paparkan saat ini adalah seseorang yang
begitu akrab dengan Nabi Saw dan salah seorang yang pertama kali
memeluk Islam.

Dia adalah anak dari bibi (sepupu) Rasulullah Saw, karena ibu
Abdullah yang bernama Umaimah binti Abdul Muthalib adalah bibi
Rasulullah Saw.

Dia juga menjadi ipar Rasulullah Saw, karena saudarinya yang
bernama Zainab binti Jahsy adalah salah seorang istri Nabi Saw dan
menjadi salah seorang ummahatul mu’minin.
Dia adalah orang yang pertama disematkan dengan panji Islam. Dia
juga yang merupakan orang pertama yang mendapatkan gelar Amirul
Mukminin. Dialah Abdullah bin Jahsy Al Asady

Abdullah bin Jahsy masuk Islam sebelum Nabi Saw masuk ke dalam
Darul Arqam. Dia juga termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam.
Saat Nabi Saw mengizinkan para sahabatnya untuk berhijrah ke
Madinah untuk menyelamatkan agama mereka dari siksaan kaum Quraisy,
Abdullah bin Jahsy adalah menjadi orang kedua kaum Muhajirin karena
tidak ada yang mampu mendahuluinya mendapatkan kemuliaan ini selain
Abu Salamah.

16 Berhijrah di jalan Allah Swt dengan meninggalkan keluarga dan tanah
air bukanlah hal yang baru bagi Abdullah bin Jahsy. Sebelumnya, ia pernah
berhijrah bersama beberapa anggota keluarganya ke Habasyah.
Akan tetapi hijrahnya kali ini terasa lebih luas dan lengkap. Semua
keluarga dan kerabatnya turut berhijrah bersamanya. Tak kurang anakanak
ayahnya baik pria maupun wanita. Tua ataupun muda, bahkan anakanak.
Rumahnya adalah rumah Islam dan sukunya adalah suku iman.
_________________________________________________

16 Abu Salamah adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal Al Makhzumy Al Qurasy, salah seorang
yang pertama masuk Islam. Dia adalah saudara sesusu dengan Nabi Saw. Ia menikahi Ummu Salamah
_________________________________________________

yang kemudian menjadi istri Nabi begitu Abu Salamah wafat. Ia meninggal di Madinah setelah kembali
dari perang Badr… Lihat profil Ummu Salamah dalam kitab Shuwar min Hayatis Sahabiyat karya
penulis.
_________________________________________________

Sebelum mereka meninggalkan Mekkah, nampak kampung mereka
terlihat begitu sedih dan haru. Ia nampak kosong tak berpenghuni. Seolah
ia belum pernah terisi dan tidak pernah terjadi percakapan dalam rumah
yang ada di dalamnya.
Tidak lama berselang sejak Abdullah berhijrah bersama orang yang
mengikutinya, maka beberapa pembesar Quraisy keluar berkeliling
kampung di Mekkah untuk mengetahui siapa di antara kaum muslimin
yang telah pergi meninggalkan kampung mereka dan siapa yang masih
diam menetap.Salah seorang dari pembesar Quraisy tadi adalah Abu Jahl
dan Utbah bin Rabiah.

Maka Utbah memandang ke arah rumah-rumah Bani Jahsy yang ditiup
angin pembawa debu dan pintu-pintu yang terbuka. Demi melihat itu
Utbah berkata: “Kampung Bani Jahsy kini menangisi penduduknya...” Abu
Jahl lansung menimpali: “Siapakah mereka sehingga kampung ini
menangisinya?!” Kemudian Abu Jahl meletakan tangannya di tembok
rumah Abdullah bin Jahsy, dan rumah tersebut adalah rumah yang paling
bagus dan kaya di antara yang lainnya. Dan Abu Jahl berkuasa atas rumah
tersebut dan apa yang ada di dalamnya seolah ia adalah pemiliknya.
Begitu Abdullah bin Jahsy mendengar apa yang dilakukan Abu Jahl
terhadap rumahnya, maka ia melaporkannya kepada Rasulullah Saw. Maka
Nabi Saw bertanya kepadanya: “Apakah engkau tidak rela, ya Abdullah jika
Allah Swt akan menggantikannya dengan sebuah istana di surga?” Ia
menjawab: “Tentu, saya rela ya Rasulullah!” Rasul bersabda: “Nah..
begitulah!”
Maka menjadi tenanglah jiwa dan hati Abdullah.

Hampir saja Abdullah bin Jahsy tidak sampai ke Madinah setelah
melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan dalam hijrahnya yang
pertama dan kedua.
Hampir saja ia merasakan ketentraman di bawah naungan kaum
Anshar; setelah ia merasakan penyiksaan yang dilakukan oleh kaum
Quraisy, sehingga ia merasakan dengan izin Allah penyiksaan yang begitu
berat yang ia rasakan sepanjang hidupnya sejak ia masuk ke dalam Islam.
Marilah kita mendengarkan kisah pengalaman yang pahit dan
menyakitkan ini.

Rasulullah Saw mengirimkan 8 orang dari para sahabatnya untuk
melakukan tugas kemiliteran dalam Islam, salah seorang dari mereka
adalah Abdullah bin Jahsy dan Sa’d bin Abi Waqash. Rasul Saw bersabda:
“Aku akan menunjuk pemimpin di antara kalian yaitu orang yang paling
kuat merasakan lapar dan haus.” Kemudian Rasul menyematkan panji
_________________________________________________

mereka kepada Abdullah bin Jahsy; dan karenanya ia menjadi amir pertama
yang ditunjuk untuk memimpin sekelompok orang dari kaum mukminin.17

Rasulullah menunjukkan tujuan yang harus ditempuh oleh pasukan
Abdullah bin Jahsy dan Beliau memberikan sebuah surat kepadanya. Rasul
memerintahkan kepada Abdullah agar tidak membukanya kecuali setelah
menyusuri perjalanan selama dua hari.
Tatkala dua hari perjalanan telah ditempuh oleh pasukan,maka
Abdullah bin Jahsy membuka surat tersebut, ternyata di dalamnya tertulis:
“Jika engkau telah membaca suratku ini maka berjalanlah ke arah sebuah
pohonkurma yang berada di antara Thaif dan Mekkah. Pantaulah suku
Quraisy dari sana, dan sampaikan kepada kami informasi tentang
mereka....”

Begitu Abdullah bin Jahsy selesai membaca surat tersebut ia langsung
berkata: “Baik, kami akan mentaati perintah Nabi Allah.”
Lalu ia berkata kepada para sahabatnya: “Rasulullah Saw
memerintahkan aku untuk pergi ke sebuah pohon kurma yang dituju agar
aku dapat memantau suku Quraisy sehingga aku dapat memberikan
informasi tentang mereka. Beliau melarangku untuk memaksa salah
seorang di antara kamu untuk pergi menemaniku. Siapa yang ingin
mendapatkan kesyahidan dan ingin melakukannya, maka silahkan
menemaniku, barang siapa yang enggan melakukannya maka silahkan
kembali dan ia tidaklah tercela.”

Kaumnya menjawab: “Kami mendengar dan taat kepada Rasulullah
Saw. Kami akan berangkat bersamamu sebagaimana Nabi menyuruhmu.”
Lalu pasukan tadi melanjutkan perjalanan mereka hingga tiba di pohon
kurma yang dimaksud dan mereka lalu mencari berita lewat kafilah yang
lewat untuk mendapatkan informasi tentang kaum Quraisy.
Mereka masih melakukan tugas hingga akhirnya mereka melihat dari
kejauhan datangya sebuah kafilah Quraisy yang terdiri dari 4 orang yaitu
Amr bin Al Hadramy, Al Hakam bin Kaisan,Utsman bin Abdullah dan
saudaranya yang bernama Al Mughirah.

Mereka berempat membawa
barang dagangan suku Quraisy yang berisikan antara lain kulit, anggur
kering dan komoditas lain yang biasa diperdagangkan oleh suku Quraisy.
Ketika itu para sahabat Rasul tadi mulai bermusyawarah. Hari itu
adalah hari terakhir dari bulan-bulan haram18 dimana perang dilarang.
Mereka lalu berkata: Jika kita membunuh mereka sekarang, maka kita
membunuh mereka dalam bulan haram. Dan itu berarti merusak
_________________________________________________
17 Diriwayatkan bahwa panji pertamayang disematkan dalam Islam adalah yang diberikan
kepada Hamzah bin Abdul Muthalib ra, ada juga yang berpendapat berbeda.

18 Bulan-bulan Haram adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Bangsa Arab
melarang terjadinya perang dalam bulan-bulan ini.
_________________________________________________
kehormatan bulan ini dan dapat membangkitkan amarah semua bangsa
Arab... Jika kita membiarkan mereka, hingga hari ini berakhir maka
mereka akan masuk ke tanah haram19 dan mereka akan berada dalam
wilayah yang aman sehingga tidak bisa kita serang.”
Mereka terus bermusyawarah hingga mereka sepakat untuk menyerang
mereka dan membunuhnya dan merampas harta bawaan mereka sebagai
ghanimah... dalam beberapa saat saja mereka dapat membunuh salah
seorang dari mereka20, menawan 2 orang21, dan satunya lagi berhasil
melarikan diri.

Abdullah bin Jahsy dan para sahabatnya menggiring kedua tawanan
dan barang bawaannya menuju Madinah. Begitu mereka menghadap
Rasulullah saw dan mengetahui apa yang mereka telah lakukan maka
Rasulullah Saw langsung menolaknya dengan keras. Beliau bersabda
kepada mereka: “Demi Allah, aku tidak memerintahkan kalian untuk
berperang. Aku memerintahkan kalian untuk memberikan informasi
tentang kaum Quraisy dan mengawasi gerak-gerik mereka.”
Rasul Saw melihat kondisi kedua tawanan tadi dan memutuskan
perkara mereka... Rasul Saw menolak barang bawaan mereka dan Beliau
tidak mengambil sedikitpun darinya.

Pada saat itu Abdullah bin Jahsy dan para sahabatnya merasa amat
menyesal dan mereka merasa yakin bahwa mereka akan celaka karena
melanggar perintah Rasulullah Saw.
Beban terasa semakin bertambah bagi mereka saat para sahabat mereka
yang lain mulai mencerca mereka dan menjauh saat berpapasan dengan
mereka dengan berkata: “Mereka telah melanggar perintah Rasulullah
Saw!”

Mereka semakin merasa terjepit saat mengetahui bahwa suku Quraisy
menjadikan kejadian ini sebagai preseden buruk untuk mengalahkan dan
menangkap Rasulullah Saw dan menyebarkan berita ini ke seluruh kabilah
Arab. Kaum Quraisy mengatakan: “Muhammad kini telah menghalalkan
bulan haram. Ia telah menumpahkan darah, merampas harta dan menahan
tawanan.”
Tidak usah ditanyakan betapa kesedihan yang dirasakan oleh Abdullah
bin Jahsy dan para sahabatnya akibat derita yang mereka rasakan. Dan juga
_________________________________________________
19 Maksudnya memerangi mereka adalah tindakan yang haram karena mereka sudah memasuki
tanah haram Mekkah.

20Dia adalah Amr bin Al Hadhramy

21Salah seorang dari mereka adalah Al Hakam bin Kaisan budak Hisyam bin Al Mughirah orang
tua Abu Jahl. Ia masuk Islam dan menjalankan keislamannya dengan baik dan ia mati syahid dalam
peristiwa Bi’ru Ma’unah.
_________________________________________________
karena rasa malu mereka kepada Rasulullah Saw karena telah membuat
Rasulullah Saw dalam kesusahan.

Saat bencana begitu besar terasa menimpa mereka, dan musibah yang
berat terasa maka datanglah sebuah kabar gembira yang mengabarkan
bahwa Allah Swt telah ridha dengan perbuatan mereka. Dan Allah telah
menurunkan sebuah ayat kepada Nabi-Nya tentang hal ini.
Janganlah ditanya betapa gembiranya mereka. Para manusia saat itu
berdatangan kepada mereka sambil memeluk dan mengucapkan selamat;
dan mereka semua membacakan ayat yang turun berkenan dengan apa
yang telah mereka perbuat yang tercantum dalam Al Qur’an Al Karim.
Telah turun kepada Nabi Saw firman Allah Swt:

“Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram.
Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi
menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah,
(menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya
dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat
fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh.” (QS. Al-Baqarah,[2] : 217)

Begitu ayat-ayat ini turun maka jiwa Rasulullah Saw menjadi tenang;
maka Rasul baru mau mengambil barang bawaan tadi sebagai ghanimah
dan meminta tebusan dari dua tawanan tadi. Dan ia pun menerima akan
tindakan yang dilakukan oleh Abdullah bin Jahsy dan para sahabatnya;
karena perang yang mereka lakukan menjadi sebuah peristiwa besar dalam
sejarah kaum muslimin. Ghanimah dalam peristiwa ini adalah ghanimah
pertama yang diambil dalam sejarah Islam. Musuh yang terbunuh dalam
peristiwa ini adalah orang musyrik pertama yang ditumpahkan darahnya
oleh kaum muslimin. Kedua tawanannya adalah tawanan pertama yang
berhasil ditangkap oleh kaum muslimin. Panji pasukan ini adalah panji
pertama yang disematkan oleh tangan Rasulullah Saw. dan amir pasukan
ini adalah Abdullah bin Jahsy sebagai orang pertama yang dipanggil
dengan Amirul Mukminin.
Lalu terjadilah peristiwa Badr dimana Abdullah Bin Jahsy mendapatkan
ujian yang paling terhormat yang cocok dengan keimanannya.

Kemudian datanglah peristiwa Uhud. Abdullah bin Jahsy dan temannya
yang bernama Sa’d bin Abi Waqash memiliki sebuah kisah yang tak
terlupakan. Sekarang kita persilahkan Sa’d untuk bercerita kisah mereka
berdua.
Sa’d bin Abi Waqash berkisah: “Saat perang Uhud, Abdullah bin Jahsy
menemuiku sambil bertanya: ‘Apakah engkau sudah berdo’a kepada Allah?’
Aku menjawab: ‘Sudah.’ Lalu kami menepi dan akupun berdo’a: “Ya Tuhan,
jika aku berjumpa dengan seorang musuh, maka pertemukanlah aku
dengan seorang yang kuat dan bengis sehingga aku memeranginya dan ia
memerangiku. Berikanlah aku kemenangan atasnya sehingga aku dapat
membunuhnya dan mengambil barang bawaannya.” Lalu Abdullah bin
Jahsy mengaminkan do’aku. Kemudian Abdullah berdo’a: “Ya Allah,
berikanlah kepadaku seorang musuh yang kuat dan bengis sehingga aku
dapat memeranginya di jalan-Mu dan ia memerangiku. Lalu ia dapat
mengalahkan aku dan mengambil hidung dan telingaku. Jika esok aku
menjumpai-Mu, Engkau akan bertanya: ‘Mengapa hidung dan telingamu
terputus?’ aku akan menjawabnya: ‘Keduanya terputus karena berjuang di
jalan-Mu dan membela Rasul-Mu’ dan Engkau pun akan berkata: ‘Engkau
benar!’
Sa’d bin Abi Wqash berkata: “Do’a Abdullah bin Jahsy lebih baik dari
do’aku. Pada penghujung hari aku melihatnya. Ia telah terbunuh dan
tercabik-cabik. Hidung dan telinganya tergantung di sebuah pohon dengan
sebuah benang.

Allah Swt telah mengabulkan do’a Abdullah bin Jahsy dan
memuliakannya dengan mendapatkan syahadah sebagaimana Allah telah
memuliakan pamannya pemimpin para syuhada yaitu Hamzah bin Abdul
Muthalib.
Maka Rasulullah Saw menguburkan mereka berdua dalam satu kubur,
dan air mata Beliau yang suci membasahi kubur mereka yang harum
dengan semerbak bau syahadah.

Untuk merujuk lebih jauh tentang profil Abdullah bin Jahsy silahkan
melihat:

1. Al Ishabah 2/286 atau terjemah 4583
2. Imta’ul Asma’: 1/55
3. Hilliyatul Auliya: 1/108
4. Husnus Shahabah: 300
5. Majmu’ah Al Watsaiq Al Siyasiyah: 8

Kisah Sahabat Rasulullah SAW Kisah Abdullah Bin Jahsy R.a Lengkap, Kisah Abdullah Bin Jahsy Lengkap, Kisah Islam Abdullah Bin Jahsy, Kisah Dakwah Abdullah Bin Jahsy, Dakwah Islami, Dakwah Perkara Iman.
Read more

Tamsil Dakwah Belajar dari Air

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Tamsil Dakwah Belajar dari Air
Tamsil Dakwah Belajar dari Air
Tamsil Dakwah Belajar dari Air - Subhanallah betapa indahnya ciptaan allah SWT, Air? air itu untuk minum nyuci dan segala sesuatu untuk membersihkan! saya diini bukan mendefinisikan air tetapi cuma untuk tamsilan dakwah saja hehehe...

Lihatlah air! Pelajarilah air! bergurulah pada air! Air senantiasa mengalir (bergerak) yang dengan pergerakannya menjadikannya suci dan mensucikan untuk thaharoh (bersuci). Dalam pergerakannya air selalu mencari tempat yang rendah (dalam hidupnya selalu tawadhu dan berkaca pada kehidupan orang yang berada di bawahnya). Jangan sekali-kali menghambat pergerakan air karena jika air menggenang ia akan menjadi sumber penyakit, menjadi tidak suci untuk digunakan bersuci, menyebarkan bau busuk dan merusak struktur tanah yang digenanginya.

Air bergerak menuju lautan. Dan sungai atau selokan mana pun asal air mengalir, ujung-ujungnya akan menuju lautan, bergabung dengan kekuatan jamaahnya di lautan. Walau dalam perjalanannya air terhambat batu, sementara air akan mencoba melewatinya sekalipun sementara waktu berpencar dengan teman-temannya tapi kemudian akan berpadu kembali sebagai kekuatan baru.

Jika air menempati sebuah wadah atau apa saja, ia akan mengisinya sama rata, penuh keadilan. Dalam pergerakannya, air senantiasa mencari celah untuk menerobos, tidak pernah putus asa. Kekuatan air jika sengaja dibendung oleh manusia mampu menjadi sumber tenaga listrik, irigasi dan bermacarn kegunaan lainnya. Falsafah air memang bergerak dan bergerak. Selama ia bergerak maka akan rnendatangkan banyak manfaat.

Selama bergerak dengan kekuatan jamaah maka ia menjelma menjadi satu kekuatan dahsyat sebagamana air di bendungan atau to- pan badai di lautan! Sebaliknya jika air berhenti bergerak, diam stagnarl (mandeg) maka menjadi penyebab datang— nya penyakit. Jika ummat bergerak secara ijtima’i dalam da’wah ke seluruh alam maka Islam sebagai satu kekuatan hidup (the power of life) kembali akan diamalkan oleh kaurn muslimin, menjadi kekuatan perubah bagi wajah dunia sehingga orang-orang kafir ketika berhadapan dengannya hanya rnempunyai dua pilihan: diberikan hidayah oleh Allah Swt. untuk masuk Islam atau dihancurkan oleh-Nya.

Read more

Nasehat Ibu Ikan kepada Anaknya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Tamsil Dakwah Nasehat Ibu Ikan kepada Anaknya

Nasehat Ibu Ikan kepada Anaknya - Alhamdulillah sekarang ini kita akan membuat lagi tamsil dakwah, guna tamsil dakwah ini adalah untuk berdakwah secara hikmah dan pasti dan pasti mudah dipahami, sekarang saya akan menuliskan tentang Tamsil Dakwah Nasehat Ibu Ikan kepada Anaknya

Suatu hari Ibu Ikan memberikan nasehat kepada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku, didorong rasa sayang ibu kepada kalian, ibu pesan seandainya ada benda melengkung dan logam (kail) berisi makanan atau cacing (umpan) kesukaan kalian tolong jangan kalian makan. Itu sangat berbahaya! Jika kalian memakannya maka logam lengkung tadi akan menjerat tenggorokan kalian. Kemudian kalian akan ditariknya ke darat. Jika hal itu terjadi ibu sudah tidak bisa menolong kalian lagi. Mulai saat itu kehidupan kalian akan tersiksa.

Kalian akan bertemu dengan makhluk raksasa bernama manusia. Manusia itu akan membunuhmu kemudian menguliti sirip-siripmu dengan pisau, membedah perutmu kemudian mengeluarkan isi perutmu. Setelah itu kalian akan diberi bumbu-bumbu dan dimasukkan ke dalam wajan berisi minyak yang mendidih. Tubuh kalian akan digoreng di dalamnya. Kalian akan menggelepar dan sangat tersiksa. Camkanlah nasehat Ibu ini !“

Begitulah manusia, jika tidak mengikuti nasehat Nabinya yang merupakan utusan Allah Swt., maka akan mengalami kehidupan yang sengsara dan menderita terutama di akhirat nanti. Pancingan dunia yang mempesona dengan umpan-umpan harta, pangkat dan jabatan jika tidak digunakan dengan cara agama (sesuai petunjuk Allah Swt. dan contoh Rasul-Nya) atau digunakan untuk agama, maka pancingan dunia tadi akan membuat manusia terjerat penderitaan abadi tiada akhir.

Manusia akan menggelepar, meregang sakit tak terperi dan tersiksa dalam dahsyatnya adzab neraka. Penyesalan saat itu sudah tidak ada artinya. Air mata sekalipun darah sudah tidak berguna sama sekali. “Wahai manusia dengarkanlah nasehat Nabimu!!!”

Semog dapat dipahami tunggu postingan terupdate perkaraiman.com tentang tamsil dakwah yang selanjutnya. Jazakallah sudah membaca.


Read more

Tamsil Dakwah Anis, Harben dan Amsol

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Tamsil Dakwah Anis, Harben dan Amsol, Anis, Harben dan Amsol

Tamsil Dakwah Anis, Harben dan Amsol - Subhanallah, Sebenarnya dunia ini tempat kita segala ujian bagi manusia, tetapi manusia itu sendiri tidak menyadari, mereka terlena dengan dunia yang menipu ini. Bagi orang beriman dunia adalah pernajara bagi mereka, bagi orang yang tidak beriman dunia tempat memuaskan hawa nafsu mereka.

Sebuah keluarga terdiri dan suami istri dan tiga orang anak. Anak pertama bernama Anis. Anak kedua Harben dan anak ketiga Amsol. Anis dan Harben begitu disayang oleh bapaknya sementara Amsol tidak pernah diperhatikan bahkan terkesan tidak diurus oleh bapaknya.Si Bapak begitu membangga-banggakan Anis dan Harben,memanjakannya dan mencurahkan seluruh kasih sayang untuk mengurusnya. Lain halnya perlakuan kepada Amsol, dipinggirkan dan tidak diperdulikan.

Satu waktu si Bapak mengalami sakit parah yang mengharuskan ia dirawat di rumah sakit. Maka ia berpesan kepada ketiga anaknya untuk bersedia merawat dan mengurusnya selama ia sakit dan terbaring (opname) di rumah sakit. Namun sayang, Anis dan Harben malah menolak untuk mengurus bahkan walau hanya sekadar menemani si Bapak. Lain halnya dengan Amsol, meskipun selama hidupnya bersama si Bapak kurang diperhatikan bahkan terkesan dianak tirikan malah kini yang rajin menemani dan mengurus segala keperluan bapaknya selama sakit.

Sakit si Bapak tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Si Bapak sudah punya firasat bahwa hidupnya di dunia ini tidak akan lama lagi. Maka dikumpulkanlah ketiga anaknya. Si Bapak berkata kepada ketiga anaknya, “Wahai anak-anakku, sepertinya hidup Bapak tidak akan lama lagi, Bapak akan mati. Bersediakah kalian mengurus jenazah Bapak jika bapak meninggal nanti? Maukah kalian menemani Bapak sampai jenazah Bapak dibaringkan di dalam kubur?”

Anis dan Harben menyatakan keengganannya, Sedangkan Amsol dengan mengangguk menandakan kesanggupannya. Mendengar jawaban anaknya Anis dan Amsol, Bapaknya sangat kecewa. Anaknya yang selama ini dibangga-banggakan, dimanja sampai-sampai lupa mengurus anaknya yang ketiga, Amsol, kini saat kematiannya justru tidak mau membantu dan menemaninya. Sedangkan anaknya yang ketiga, Amsol yang selama mi ditelantarkannya malah bersedia menemaninya walaupun harus menemani ke dalam kubur bapaknya.

Anis adalah Anak Istri yang hanya menangisi kepergian kita sampai di atas pusara setelah itu mereka akan pulang dan melupakan kita lagi. Harben adalah Harta benda yang membuat manusia tersifati oleh sifat-sifat binatang buas untuk mencarinya. Segala cara ditempuh demi mendapatkannya, tak perduli caranya maksiat, tidak halal dan sikut sana sikut sini. Tapi ketika kita meninggal dunia ia hanya mengantarkan jenazah kita sampai di pintu, setelah itu ia berpindah tangan kepada pemiliknya yang lain. Amsol adalah Amal Shalih yang setia mengikuti kita dan mulai kehidupan dunia sampai kehidupan kubur kita. Padahal selama mi amal shalih itu kita telantarkan, tidak diusahakan bahkan disepelekan Tapi ternyata amal shalih inilah yang setia menemani dan membantu menyelamatkan kehidupan kubur kita.

Alhamdulillah semoga tamsil dakwah yang saya tuliskan bisa menjadi iktibar kepada kita semua bahwa sesungguhnya amal soleh lah yang sangat kita perlukan ketika kita sudah wafat, tetapi umat saat ini tidak memperdulikannya, Semoga kita selalu menjadi orang yang selalu dijaga oleh allah dari kelalaian dunia ini dan bisa selalu bersemngat dalam mengamalkan amalan yang baik, semoga allah mengampuni dosa dosa kita yang lalu dan yang akan datang #Amin
Read more