Adab adab dan Sunnah Berhari Raya Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Adab adab dan Sunnah Berhari Raya Lengkap, Niat Sholat Ied, adab adab shalat idul fitri, Adab dan Sunnah Berhari Raya 'Idul Fithri dan 'Idul Adh-ha, Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha, Adab-Adab Idul Fitri, Adab-adab Dalam Ied, Panduan Praktis Berhari Raya, Niat Sholat Hari Raya Idul Fitri Lengkap Arab, Latin dan Artinya, Doa Niat Mandi Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri Lengkap Arab, Tata Cara Bacaan Niat dan Lafadz Takbir Shalat Idul Fitri, Tata Cara Sholat Idul Fitri Idul Adha Lengkap Dan Bacaan Niatnya, Bacaan Niat Sholat Ied Idul Fitri Untuk Makmum, Tata Cara, Bacaan dan Doa Sholat Idul Fitri Lengkap, Tata Cara, Bacaan dan Doa Sholat Idul Fitri Lengkap,  Bacaan Doa Niat Sholat Idul Fitri Beserta Artinya Dan Tata Cara Shalat Ied Berjamaah Lengkap
Adab adab dan Sunnah Berhari Raya Lengkap
Adab adab dan Sunnah Berhari Raya Lengkap - Adab dan Sunnah Berhari Raya sering kali masyarakat muslim tidak benar benar memperhatikan masalah sholad id, beberapa adab adab yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan bisa kita baca setelah muqodimah singkat ini saya jabarkan. Baiklah kaumuslimin sekalian inilah adab adab sunnah melaksanakan sholat Ied.

Niat Sholat Sunah Idul Fitri sebagai Imam
اُصَلِّى سُنُّةً عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اِمَامًا ِللهِ تَعَالَى
USHOLLI SUNNATA 'IIDHIL FITHRI ROK'ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATI IMAAMAN LILLAAHI TA'AALA

    Artinya :
    Saya niat sholat sunnah idul fitri dua raka'at menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta'ala
Niat Sholat Sunah Hari Raya Idul Fitri sebagai Ma'mum
اُصَلِّى سُنُّةً  عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
USHOLLI SUNNATA 'IIDHIL FITHRI ROK'ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATI MA'MUUMAN LILLAAHI TA'AALA

    Artinya :
    Saya niat sholat sunnah idul fitri dua raka'at menghadap kiblat sebagai ma'mum karena Allah Ta'ala
Adab-adab Hari Raya

1. Mandi Sebelum Shalat ‘Id

Ibnul Qayyim dalam Za’dul Maad mengatakan, Nabi mandi pada dua hari raya, telah terdapat hadits shahih tentang itu, dan ada pula dua hadits dhaif: pertama, hadits Ibnu Abbas, dari riwayat Jabarah Mughallis, dan hadits Al Fakih bin Sa’ad, dari riwayat Yusuf bin Khalid As Samtiy. Tetapi telah shahih dari Ibnu Umar –yang memiliki sikap begitu keras mengikuti sunnah- bahwa beliau mandi pada hari raya sebelum keluar rumah.

2. Memakai Pakaian Terbaik dan Minyak Wangi

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, hasan)

Nafi’ menceritakan tentang Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu saat hari raya: “Beliau shalat subuh berjamaah bersama imam, lalu dia pulang untuk mandi sebagaimana mandi janabah, lalu dia berpakaian yang terbaik, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang dia miliki, lalu dia keluar menuju lapangan tempat shalat lalu duduk sampai datangnya imam, lalu ketika imam datang dia shalat bersamanya, setelah itu dia menuju masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan shalat dua rakaat, lalu pulang ke rumahnya."

3. Makan Dulu Sebelum Shalat ‘Idul Fitri, Tidak Makan Dulu Sebelum Shalat Idul Adh-ha

“Pada saat Idul Fitri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berangkat untuk shalat sebelum makan beberapa kurma." Murajja bin Raja berkata, berkata kepadaku ‘Ubaidullah, katanya: berkata kepadaku Anas, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Beliau memakannya berjumlah ganjil." (HR. Bukhari No. 953)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, mengutip dari Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah, mengatakan, “Kami tidak ketahui adanya perselisihan pendapat tentang sunahnya mendahulukan makan pada hari ‘Idul Fithri."

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah keluar pada hari Idul Fitri sampai dia makan dulu, dan janganlah makan ketika hari Idul Adha sampai dia shalat dulu." (HR. At Tirmidzi No. 542, Ibnu Majah No. 1756, Ibnu Hibban No. 2812, Ahmad No. 22984, shahih)

4. Melaksanakan Shalat ‘Id di Mushala (Lapangan)

Shalat hari raya di lapangan adalah sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak pernah shalat Id, kecuali di lapangan (mushalla). Namun, jika ada halangan seperti hujan, lapangan yang berlumpur atau becek, tidak mengapa dilakukan di dalam masjid. Dikecualikan bagi penduduk Mekkah, shalat ‘Id di Masjidil Haram adalah lebih utama.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata, “Shalat Id boleh dilakukan di dalam masjid, tetapi melakukannya di mushalla (lapangan) yang berada di luar adalah lebih utama, hal ini selama tidak ada ‘udzur seperti hujan dan semisalnya, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dua hari raya di lapangan, tidak pernah Beliau shalat di masjidnya kecuali sekali karena adanya hujan."

Dari Abu Hurairah, “Bahwasanya mereka ditimpa hujan pada hari raya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat ‘Id bersama mereka di masjid. (HR. Abu Daud)

5. Dianjurkan Kaum Wanita dan Anak-anak Hadir di Lapangan

Mereka dianjurkan untuk keluar karena memang ini adalah hari raya mesti disambut dengan suka cita. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan: “Dianjurkan keluarnya anak-anak dan kaum wanita pada dua hari raya menuju lapangan, tanpa ada perbedaan, baik itu gadis, dewasa, pemudi, tua renta, dan juga wnaita haid."

Ummu ‘Athiyah Radhiallahu ‘Anha berkata: “Kami diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan anak-anak gadis, wanita haid, wanita yang dipingit, pada hari Idul Fitri dan idul Adha. Ada pun wanita haid, mereka terpisah dari tempat shalat. Agar mereka bisa menghadiri kebaikan dan doa kaum muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang kami tidak memiliki jilbab." Beliau menajwab: “Hendaknya saudarinya memakaikan jilbabnya untuknya." (HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafaznya Imam Muslim)
Sunnah-sunnah Hari Raya

1. Shalat Hari Raya ‘Id

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (QS. Al Kautsar: 2)

Shalat ‘Idul Adh-ha (juga Idul Fithri) adalah sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah: “Disyariatkannya shalat ‘Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya."

2. Mendengarkan Khutbah Hari Raya

Berkhutbah hari raya adalah sunah menurut jumhur ulama, mendengarkannya juga sunah. Syaikh Sayyid Sabiq menerangkan: “Khutbah setelah shalat ‘Id adalah sunah, mendengarkannya juga begitu."

Dari Abdullah bin As Saa’ib Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Saya menghadiri shalat ‘Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika shalat sudah selesai, beliau bersabda: “Kami akan berkhutbah, jadi siapa saja yang mau duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan yang ingin pergi, pergilah!" (HR. Abu Daud, shahih)

3. Berangkat dan Pulang Melewati Jalan yang Berbeda

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhuma, katanya: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika keluar pada hari Id akan menempuh jalan yang berbeda. (HR. Bukhari No. 986)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika keluar menuju shalat dua hari raya, pulangnya menempuh jalan yang berbeda dengan keluarnya. (HR. Ahmad)

4. Mengucapkan Selamat Hari Raya: “Taqabbalallahu Minna wa Minka"

Telah diriwayatkan dari Al Watsilah, bahwa beliau berjumpa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucakan: “Taqabballahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amal kami dan Anda)." Namun sanad riwayat ini dhaif (lemah/tidak valid), sebagaimana yang dikatakan Al Imam Al Hazifh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fathul Bari.

Namun, Imam Ibnu Hajar berkata:” “Kami meriwayatkan dalam kitab Al Mahamilliyat, dengan sanad yang hasan (bagus), dari Jubeir bin Nufair, katanya: dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mereka berjumpa pada hari raya, satu sama lain berkata: “Taqabbalallahu minna wa minka."

5. Bergembira dengan Pesta yang Halal

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah: Melakukan permainan yang dibolehkan, gurauan yang baik, nyanyian yang baik, semua itu termasuk di antara syiar-syiar agama yang Allah tetapkan pada hari raya , untuk menyehatkan badan dan mengistirahatkan jiwa.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamdatang ke Madinah, saat itu mereka memiliki dua hari untuk bermain-main. Lalu Beliau bersabda: “Dua hari apa ini?" Mereka menjawab: “Dahulu, ketika kami masih jahiliyah kami bermain-main pada dua hari ini." Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan buat kalian dua hari itu dengan yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri." (HR. Abu Daud)

6. Bertakbir Pada Hari Raya

Untuk bertakbir pada ‘Idul Fitri, Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al Baqarah (2): 185)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, dalam Fiqhus Sunnah, mengatakan: “Mayoritas ulama berpendapat bahwa bertakbir pada ‘Idul Fithri dimulai sejak keluar menuju shalat ‘Id, sampai mulainya khutbah. Hal itu telah diriwayatkan dalam hadits-hadits dhaif, walau ada yang shahih hal itu dari Ibnu Umar dan selainnya dari kalangan sahabat nabi. Berkata Al Hakim: ini adalah sunah yang tersebar dikalangan ahli hadits. Dan inilah pendapat Malik, Ahmad, ishaq, dan Abu Tsaur. (, 1/325).

Sedangkan Imam As Syafi’i mengatakan bahwa bertakbir sudah mulai sejak awal tenggelam matahari akhir Ramadhan.

Untuk takbir pada ‘Idul Adh-ha, Allah Ta’ala berfirman: “Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan." (QS. Al Baqarah (2): 203). Maksud “hari-hari yang telah ditentukan"adalah hari-hari tasyriq, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas.

Waktu bertakbir bagi Idul Adha yang shahih adalah sejak hari ‘Arafah sampai ashar hari-hari tasyriq, yaitu 11,12,13, dari Dzulhijjah. (Fiqhus Sunnah, 1/325). Ini adalah takbir khusus yang dilaksanakan setelah shalat. Sedangkan takbir yang mutlak boleh dikerjakan sejak tanggal 1 Dzulhijjah.

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1-10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu." (HR. Ahmad & Sanadnya dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

Boleh dikeraskan suaranya, sebagaimana tertulis dalam Al Mausu’ah: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara fuqaha tentang kebolehan bertakbir dengan dikeraskan di jalan menuju lapangan saat ‘Idul Adh-ha."

Semoga saudara saudara bisa melaksanakan dengan lancar selamat hari raya idul fitri untuk saudara seimanku semoga bisa melaksanakan adab adabnya. Wasalam

Sumber : Hamba allah
Adab adab dan Sunnah Berhari Raya Lengkap, Niat Sholat Ied, adab adab shalat idul fitri, Adab dan Sunnah Berhari Raya 'Idul Fithri dan 'Idul Adh-ha, Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha, Adab-Adab Idul Fitri, Adab-adab Dalam Ied, Panduan Praktis Berhari Raya, Niat Sholat Hari Raya Idul Fitri Lengkap Arab, Latin dan Artinya, Doa Niat Mandi Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri Lengkap Arab, Tata Cara Bacaan Niat dan Lafadz Takbir Shalat Idul Fitri, Tata Cara Sholat Idul Fitri Idul Adha Lengkap Dan Bacaan Niatnya, Bacaan Niat Sholat Ied Idul Fitri Untuk Makmum, Tata Cara, Bacaan dan Doa Sholat Idul Fitri Lengkap, Tata Cara, Bacaan dan Doa Sholat Idul Fitri Lengkap,  Bacaan Doa Niat Sholat Idul Fitri Beserta Artinya Dan Tata Cara Shalat Ied Berjamaah Lengkap
Read more

Kisah Al Baraa bin Malik al Ansari R.a Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kisah Al Baraa bin Malik al Ansari R.a Lengkap, arti nama al barra, 20 sahabat nabi yang mati syahid, perang tustar, barak bin malik, kisah al barra,
Kisah Al Baraa bin Malik al Ansari R.a Lengkap
Kisah Al Baraa bin Malik al Ansari R.a Lengkap - Segala puji bagi allah SWT tuhan semesta alam yang menggerkan hati saya untuk menuliskan kisah teladan sahabat Al Baraa bin Malik al Ansari R.a Lengkap sebagai contoh untuk umat akhir zaman. Berikut ini kisahnya :
“Janganlah Kalian Tunjuk Al Bara’ Menjadi Amir dalam Pasukan Muslimin, Karena Dikhawatirkan Ia Dapat Mencelakakan Tentaranya karena Ingin Terus Maju” (Umar Bin Khattab)

Rambutnya berantakan. Badannya kurus. Tulangnya kecil. Gesit dan
sulit dilihat. Akan tetapi meski demikian ia berhasil membunuh 100 orang musyrik
dalam sekali perang, selain orang-orang yang berhasil dibunuhnya dalam
perang-perang yang diikutinya bersama para pejuang.
Dia adalah orang yang gagah berani dan pantang mundur, demikian
tulis Umar dalam sebuah surat yang ia tujukan untuk para pembantunya:
“Janganlah ia ditunjuk sebagai pimpinan pasukan muslimin karena
khawatir mereka semua terbunuh karena maju terus.”
Dialah Al Bara’ bin Malik Al Anshary, saudara Anas bin Malik
pembantu Rasulullah Saw.

Jika aku paparkan semua kisah kepahlawanan Al Bara’ bin Malik pasti
akan membutuhkan banyak ruang dan halaman; karenanya aku hanya
akan menceritakan satu kisah saja dari kepahlawanannya yang dapat
memberikan gambaran kepadamu tentang kisah kepahlawanannya yang
lain.

Kisah ini dimulai saat Rasulullah Saw wafat dan kembali ke pangkuan
Tuhannya, saat beberapa kabilah Arab keluar dari agama Allah secara
berbondong, seperti saat mereka masuk ke agama tersebut secara
berbondong. Sehingga yang tersisa hanyalah para penduduk Mekkah,
Madinah,Thaif dan beberapa kelompok di sana-sini yang Allah tetapkan
hatinya untuk terus beriman.

Abu Bakar As Shiddiq tetap tegar menghadapi fitnah yang merebak ini.
Ia tegar bagai gunung kokoh yang tak bergeming. Ia menyiapkan 11
pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau juga
menyiapkan 11 panji yang masing-masing dibawa oleh panglima pasukan
tadi. Ia mengutus ke sebelas pasukan tadi ke seluruh penjuru Arab untuk
mengembalikan mereka yang murtad kepada jalan petunjuk dan
______________________________________________________________

kebenaran, dan untuk menggiring orang-orang yang sesat menuju jalan
yang lurus lewat sabetan pedang.
Kaum murtad yang paling kuat dan banyak pasukannya adalah Bani
Hanifah yang menjadi para pendukung Musailamah Al Kadzab. Saat itu
Musailamah didukung oleh kaum dan sekutunya yang berjumlah 40 ribu
orang pejuang. Kebanyakan dari mereka mendukungnya karena fanatisme
dan bukannya karena beriman kepadanya. Sebagian dari mereka
mengatakan: “Aku bersaksi bahwa Musailamah adalah pembohong dan
Muhammad adalah benar. Tetapi pembohong yang berasal dari suku

Rabi’ah9 lebih kami sukai daripada orang yang benar berasal dari suku
Mudhar10.”
Musailamah berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan
pertama kaum muslimin yang dikirimkan kepadanya di bawah komando
‘Ikrimah bin Abi Jahal.11
Lalu Abu Bakar mengirimkan pasukan muslimin kedua kepada
Musailamah di bawah komando Khalid bin Walid dimana pasukan tersebut
dipenuhi dengan para tokoh Anshar dan Muhajirin. Salah satu dari mereka
adalah Al Bara’ bin Malik Al Anshary, dan banyak lagi para patriot
pemberani dari kaum muslimin.

Kedua pasukan bertemu di daerah Al Yamamah di Najd. Hanya
sebentar saja maka pasukan Musailamah dan pendukungnya terlihat
unggul. Bumi yang dipijak oleh pasukan muslimin terasa berguncang saat
itu. Kaum muslimin mulai bergerak mundur dan terjepit. Sehingga para
pendukung Musailamah dapat menyusup ke tenda induk Khalid bin Walid.
Mereka mencabut tali dan tiang tenda tersebut, bahkan mereka hampir saja
membunuh istri Khalid kalau saja tidak ada seorang dari pasukan muslimin
yang melindunginya.

Ketika itu kaum muslimin merasakan bahaya yang begitu besar. Mereka
menyadari bahwa bila mereka sampai kalah oleh Musailamah maka Islam
tidak akan berdiri tegak lagi dan Allah Swt tidak akan pernah disembah lagi
di jazirah Arab.

Khalid langsung bangkit menuju pasukannya. Ia memulai mengatur
kembali pasukannya. Ia mendahulukan kaum Muhajirin di pasukan depan
dan Anshar di belakang. Dan ia menempatkan orang-orang badu’i di
barisan tersebut.
Khalid juga mengumpulkan anak-anak yang berasal dari satu bapak
dengan satu panji agar ia dapat mengetahui musibah yang menimpa setiap

9 Rabiah adalah sebuah kabilah besar di Arab yang menjadi leluhur Musailamah
10 Mudhar adalah kabilah dimana Rasul Saw berasal.
11 Ikrimah bin Abi Jahal dapat dilihat pada hal. 117
________________________________________________

regu dalam peperangan ini, dan juga agar ia tahu dari sisi mana kaum
muslimin di serang. Maka terjadilah perang di antara dua kubu yang begitu hebatnya.
Kaum muslimin belum pernah menjalani peperangan yang begitu dahsyat
seperti ini sebelumnya. Kaum Musailamah telah berdiri dengan
congkaknya di medan perang seolah mereka bagai gunung yang tak
bergeming dan mereka seolah tidak peduli akan banyaknya korban yang
mereka terima.

Dan kaum muslimin saat itu didukung oleh para pahlawan yang bila
dikumpulkan dalam tulisan maka akan menjadi sebuah kisah
kepahlawanan yang amat menarik.
Terdapat di sana Tsabit bin Qais pembawa panji Al Anshar yang telah
menyiapkan peralatan kematian, kain kafan dan menggali sendiri kuburan
untuk dirinya. Ia masuk ke dalam lobang yang digalinya tersebut sehingga
mencapai separuh dari betisnya. Ia berdiri tegap dalam posisinya itu. Ia
berjuang mempertahankan panji kaumnya sehingga ia binasa dan menjadi
syahid.

Adalagi Zaid bin Khattab saudara Umar bin Khattab ra yang menyeru
pasukan muslimin: “Wahai semua manusia, gigitlah kuat-kuat geraham
kalian, seranglah musuh kalian dan terus maju pantang mundur… Wahai
semua manusia, Demi Allah aku tidak akan berkata apapun lagi setelah ini
sehingga Musailamah dapat dikalahkan atau hingga aku berjumpa Allah
dan aku akan bersaksi dihadapannya… Kemudian ia mulai menyerang
musuh dan terus berperang sehingga tewas.
Ada juga Salim budak Abu Hudzaifah yang membawa panji kaum
Muhajirin. Kaumnya khawatir akan kelemahan fisik dan rasa takut yang
dimilikinya, sehingga kaumnya berkata kepada Salim: “Kami khawatir kita
akan diserang dari arahmu.” Salim menjawab: “Jika kalian diserang musuh
dari arahku, maka seburuk-buruknya penjaga Al Qur’an adalah aku.”
Kemudian Salim menyerang para musuh Allah dengan begitu beraninya,
sehingga ia tewas.

Akan tetapi semua pahlawan tadi masih kalah dibandingkan kisah
kepahlawanan Al Bara’ bin Malik ra.
Hal itu karena saat Khalid melihat perang berkecamuk dengan begitu
dahsyatnya, ia menoleh ke arah Al Bara’ bin Malik sambil berkata:
“Seranglah mereka, wahai pemuda Anshar!”
Maka Al Bara’ pun melihat ke arah kaumnya dan berkata: “Wahai
kaum Anshar, janganlah salah seorangpun di antara kalian berpikir untuk
kembali ke Madinah; tidak ada lagi Madinah bagi kalian setelah hari ini…
yang ada hanyalah Allah saja… dan surga…”
Kemuian Al Bara; dan kaumnya membawa panji mereka untuk
menyerang kaum musyrikin. Dan ia terus menyerang membuka barisan
lawan. Ia menebaskan pedangnya di leher para musuh Allah sehingga
Musailamah dan pendukungnya terjepit. Mereka mundur ke sebuah taman
______________________________________________________________
yang terkenal dalam sejarah dengan sebutan Hadiqatul Maut (Taman
Kematian) karena banyaknya korban yang mati di hari itu.

Hadiqatul Maut ini adalah sebuah bidang yang luas dan memiliki
tembok yang tinggi. Musailamah dan ribuan tentaranya menutup gerbanggerbang
taman tersebut. Mereka semua berlindung dengan tembok-tembok
tinggi yang ada di dalamnya. Dan mereka menembakkan anak panah
mereka dari dalam taman tersebut sehingga anak panah tersebut bagaikan
hujan yang turun dengan deras bagi kaum muslimin.
Saat itu majulah sang pejuang Islam yang gagah berani bernama Al
Bara’ bin Malik sambil berseru: “Wahai kaumku, taruhlah aku di alat
pelempar. Dan arahkanlah ke arah para pemanah itu. Lemparkanlah aku
ke dalam taman dekat gerbangnya. Karenanya, bila aku tidak mati syahid,
maka aku akan membukakan gerbang taman untuk kalian.

Dalam sekejap Al Bara’ bin Malik telah duduk di atas alat pelempar. Dia
adalah seorang yang berbadan kurus. Maka para pejuang yang lain
mengangkat dan melemparkannya ke dalam Hadiqatul Maut di antara
ribuan pasukan Musailamah. Maka turunlah Al Bara’ di pihak musuh
seperti kilat menyambar. Ia terus menyerang mereka di depan gerbang
taman dan ia berhasil membunuh 10 orang dari mereka dan berhasil
membuka gerbang. Dan ia mengalami lebih dari 80 luka panah dan
sabetan pedang karenanya.
Maka kaum muslimin langsung merangsek ke arah Hadiqatul Maut
dari seluruh penjuru pagar dan gerbangnya. Mereka menyabetkan pedang
ke arah leher para kelompok murtadin, sehingga tidak kurang dari 20 ribu
dari pihak mereka menjadi korban termasuk Musailamah Al Kadzab.

Al Bara’ bin Malik dibawa dengan kendaraannya untuk mendapatkan
perawatan. Khalid bin Walid merawatnya selama sebulan penuh untuk
menyembuhkan semua luka yang ada pada tubuh Al Bara hingga akhirnya
ia pun pulih kembali. Dengan keberanian Al Bara, pasukan muslimin
meraih kemenangan telak.

Al Bara telah mengobarkan semangatnya untuk mendapatkan
kesyahidan dalam peristiwa Hadiqatul Maut. Ia terus mengikuti perang
demi perang karena ingin mewujudkan cita-citanya yang tertinggi itu dan
_________________________________________________
karena rindu kepada Nabi Saw, sehingga pada hari penaklukan kota
Tustar12 di negeri Persia. Persia saat itu dibentengi dengan salah satu
benteng yang terletak di dataran tinggi. Kaum Muslimin telah berhasil
mengepung mereka dengan begitu ketatnya. Saat pengepungan tersebut
berlangsung cukup lama dan pihak Persia sudah merasa semakin terjepit
maka mereka membuat rantai besi yang mereka ulurkan dari pagar
benteng tersebut. Di ujung rantai digantungkan penjepit yang terbuat dari
baja yang disulut api sehingga lebih panas dari batu bara; Penjepit itu
berputar mengenai tubuh kaum muslimin dan mencomot tubuh mereka.
Pasukan Persia mengangkat tubuh kaum muslimin yang terkena jepitan
tadi ke atas baik dalam keadaan mati ataupun sekarat.
Para pasukan Persia yang bertugas menggunakan alat tersebut
mengarahkannya kepada Anas bin Malik –saudara Al Bara bin Malik-.
Begitu melihatnya, AL Bara langsung melompat ke arah tembok benteng
dan meraih rantai yang telah mengambil tubuh saudaranya. Al Bara
berjuang keras untuk menggoncang penjepit tadi untuk mengeluarkan
Anas dari dalamnya. Tangan Al Bara menjadi terbakar dan melepuh, ia
tidak menghentikan usahanya sehingga saudaranya terbebas, dan iapun
jatuh setelah hanya tulang yang tersisa dari tangannya tanpa daging
sedikitpun.

Dalam peperangan ini, Al Bara bin Malik Al Anshary berdo’a kepada
Allah agar ia diberikan mati syahid. Dan Allah mengabulkan
permohonannya. Dan Al Bara akhirnya mati sebagai seorang syahid yang
amat rindu dengan perjumpaan dengan Allah Swt.
Semoga Allah Swt menyinari wajah Al Bara bin Malik di surga, dan
membuat dirinya tenang dengan hidup bersama Nabinya Muhammad Saw.
Semoga Allah meridhainya dan ia ridha kepada Tuhannya.
Untuk dapat mengenal sosok Al Bara bin Malik Al Anshary lebih jauh
dapat merujuk ke:
  1.  Ishabah 1/143 atau terjemah 620
  2. Al Isti’ab dengan Hamisy Al Ishabah : 1/137
  3. Thabaqat Al Kubra: 3/441 dan 7/17,121
  4. Tarik Al Thabary: (Lihat Daftar Isi pada Jilid ke 10)
  5. Al Kamil fi At Tarikh: (Lihat Daftar Isi)
  6. As Sirah karya Ibnu Hisyam: (lihat daftar isi)
  7. Hayat As Shahabah (Lihat daftar isi pada juz 4)
  8. Qadah Fath Faris karya Syit Khattab
12Tustar adalah kota terbesar di Kazakhstan saat ini. 

Kisah Al Baraa bin Malik al Ansari R.a Lengkap, arti nama al barra, 20 sahabat nabi yang mati syahid, perang tustar, barak bin malik, kisah al barra.
Read more

Kisah Umair Bin Wahab R.a Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kisah Umair Bin Wahab, kisah sahabat nabi Umair Bin Wahab,
Kisah Umair Bin Wahab R.a Lengkap

Kisah Umair Bin Wahab R.a Lengkap - Alhamdulillah saya masih bisa diberi kesempatan oleh allah swt, untuk menjadi umat yang terbaik kita perlu tau contoh teladan para sahabat r.a Kisah Umair Bin Wahab, kisah sahabat nabi Umair Bin Wahab, berikut ini adalah kisahnya.

“Umair Bin Wahab Telah Menjadi Orang yang Paling Aku Kasihi Di
Antara Para Anakku.” (Umar Bin Khattab)
Umair bin Wahab Al Jumahy kembali dari perang Badr dalam kondisi
selamat, akan tetapi ia pulang tanpa membawa anaknya yang bernama
Wahab karena ditawan oleh kaum muslimin.
Umair amat khawatir bila kaum muslimin akan menyiksa anaknya
karena dosa yang telah dibuat oleh ayahnya. Dan ia juga amat khawatir
bila kaum muslimin akan menganiaya anaknya dengan bengis sebagai
balas dari tindakan ayahnya saat menyakiti Rasulullah Saw dan para
sahabatnya.

Di suatu pagi, Umair hendak pergi ke Masjidil Haram untuk bertawaf
di Ka’bah dan mencari keberkahan para berhala yang ada di sana. Ia
bertemu dengan Shafwan bin Umayyah7 yang sedang duduk di samping
Hijir Ismail. Umair lalu menghampirinya dan berkata: “Selamat pagi, wahai
pemuka bangsa Quraisy!” Shafwan membalas: “Selamat pagi, Abu Wahab.
Duduklah agar kita dapat berbicara sejenak! Sebab waktu dapat berhenti
karena pembicaraan.” Umair pun duduk dihadapan Shafwan bin Umayyah.
Kedua pria tersebut akhirnya mengingat peristiwa Badr dan kekalahan
mereka yang telak.

Mereka juga menghitung kaum mereka yang menjadi
tawanan di tangan Muhammad dan para sahabatnya. Dan mereka menjadi
bergidik saat mengingat para pembesar Quraisy yang mati terbunuh oleh
pedang kaum muslimin, dan mereka terkenang akan Al Qalib8… Lalu
Shafwan langsung berseru: “Demi Allah, tidak ada kehidupan yang lebih
nikmat setelah mereka.” Umair menyahut: “Demi Allah, Engkau benar.”
Lama berselang Umair berkata lagi: “Demi Tuhan pemilik Ka’bah, kalau
aku tidak ingat hutangku yang tidak sanggup aku bayar. Kalau saja aku
tidak khawatir dengan keluarga yang aku khawatirkan kehidupan mereka
bila aku tidak ada. Pasti aku sudah mendatangi Muhammad dan
membunuhnya sehingga aku dapat menyelesaikannya dan menolak segala
kejahatannya…” Kemudian ia meneruskan lagi ucapannya dengan suara
______________________________________________________________

7Shafwan bin Umayyah bin Khalaf Al Jumahy Al Qurasy. Panggilannya adalah Abu Wahab yang masuk Islam setelah penaklukan kota Mekkah. Dia adalah seorang yang terhormat dan dermawan dari kalangan bangsawan Quraisy. Dia juga termasuk golongan muallaf (orang yang masuk Islam karena hatinya telah ditundukan). Ia turut dalam perang Yarmuk dan meninggal di Mekkah pada tahun 41 H. 

8Al Qalib adalah sebuah sumur dimana terkubur di dalamnya kaum Musyrikin saat perang Badr.
______________________________________________________________

pelan: “Dan keberadaan anakku yang bernama Wahab yang menjadi
tawanan mereka, itu yang membuat kepergianku ke Yatsrib menjadi hal
yang tidak dapat dielakan.”

Shafwan bin Umayyah memegang ucapan Umair bin Wahab. Sebelum
kesempatan berlalu, Shafwan memandang Umair seraya berkata: “Ya
Umair, aku akan menanggung semua hutangmu berapapun jumlahnya…
Sedang keluargamu, aku akan menjadikan mereka seperti keluargaku
selagi aku dan mereka masih hidup. Aku memiliki uang yang cukup
banyak untuk merawat mereka semua.” Umair lalu menjawab: “Kalau
begitu, jagalah pembicaraan ini dan jangan sampai ada seorangpun yang
tahu!” Shafwan langsung membalasnya: “Aku jamin.”

Umair bangkit dari Masjid dan api kedengkian menyala dengan hebat
dalam hatinya kepada Muhammad Saw. Ia lalu mempersiapkan bekal
untuk mewujudkan tekadnya. Ia tidak khawatir kegelisahan orang lain
akan perjalanan yang ia lakukan; hal itu karena para keluarga tawanan
Quraisy lainnya ragu untuk pergi ke Yatsrib demi mencari keluarganya
yang ditawan di sana.

Umair meminta keluarganya untuk mengasah pedangnya lalu
melumurkannya dengan racun. Dan ia juga meminta agar kendaraannya
dipersiapkan dan dibawa kehadapannya; dan iapun lalu
menungganginya… Ia mulai menuju Madinah dengan selendang
kebencian dan kejahatan. Akhirnya Umair tiba di Madinah dan ia berjalan
menuju Masjid untuk mencari Rasulullah Saw. Saat ia sudah hampir
mendekat ke pintu masjid, ia memberhentikan tunggangannya lalu turun.

Saat itu Umar bin Khattab ra sedang duduk bersama para sahabat yang
lain dekat pintu masjid. Mereka sedang mengenang perang Badr dan
tawanan Quraisy serta jumlah yang terbunuh dari pihak mereka. Mereka
juga mengenang para pahlawan muslimin dari suku muhajirin dan anshar.
Mereka juga mengingat anugerah kemenangan yang Allah berikan kepada
mereka, dan apa yang Allah perlihatkan kepada mereka tentang kekalahan
yang diterima oleh musuh.
Saat kepala Umar menoleh ia melihat Umair bin Wahab yang baru
turun dari kendaraannya. Terlihat Umair sedang berjalan ke arah masjid
dengan pedang terhunus. Maka Umar langsung bangkit dengan khawatir
seraya berkata: “Inilah si anjing musuh Allah Umair bin Wahab… Demi

Allah, pastilah ia datang hendak membuat keburukan. Dialah yang pernah
menghasut kaum musyrikin di Mekkah untuk memusuhi kami. Dan dia
juga yang selalu menjadi mata-mata sebelum terjadinya perang Badr.” Lalu
Umar berpesan kepada para sahabatnya: “Pergilah kepada Rasulullah dan
tetaplah kalian bersamanya! Waspadalah saat setan pembuat makar ini
akan berlaku khianat kepada Beliau!”
Kemudian Umar datang menghadap Nabi Saw seraya berkata: “Ya
Rasulullah, ada musuh Allah bernama Umair bin Wahab datang dengan
membawa pedang terhunus. Aku menduga bahwa ia ingin membuat
kerusakan.” Lalu Rasul Saw bersabda: “Bawalah ia menghadapku.”
Kemuian Umar mendatangi Umair bin Wahab. Umar lalu mengambil
kerah baju Umair dengan keras, lalu melipat leher Umair sampai mencium
tempat pedang yang berada di pinggulnya. Lalu Umar membawanya
menghadap Rasul Saw.

Saat Rasulullah Saw mendapatinya dalam kondisi sedemikian, maka
Beliau bersabda kepada Umar: “Lepaskan dia, ya Umar!” Lalu Umar pun
melepaskannya, lalu berkata kepada Umair: Menjauhlah dari Rasul!” Lalu
Umair pun menjauh dari Rasul. Lalu Rasul Saw mendekat ke arah Umair
bin Wahab seraya bersabda: “Duduklah, ya Umair!” Lalu Umairpun duduk
dan berkata: “Selamat pagi!” Lalu Rasulullah Saw menjawab: “Allah telah
memulyakan kami dengan ucapan penghormatan yang lebih baik dari yang
kau ucapan, wahai Umair! Allah telah memuliakan kami dengan salam dan
itu adalah ucapan ahli surga.” Lalu Umair menjawab: “Demi Allah, apa
yang kau ucapkan tidak jauh berbeda dengan ucapan kami. Dan jarakmu
dengan kami hanya sedikit saja.” Lalu Rasul Saw bertanya kepadanya: “Apa
yang membawamu ke sini, wahai Umair?” Umair menjawab: “Aku ke sini
untuk memohon kebebasan bagi tawanan yang kalian tawan. Bersikaplah
baik kepadaku dalam hal ini.” Rasul Saw bertanya lagi:

“Lalu apa maksudnya pedang yang kau bawa di lehermu ini?” Umair menjawab: “Ini
adalah pedang yang jelek… apakah ia bermanfaat buat kami saat
terjadinya perang Badr?!!” Rasul Saw bertanya lagi: “Berkatalah yang jujur,
apa yang kau inginkan hingga datang ke sini, wahai Umair?” Umair
menjawab: “Aku hanya datang untuk maksud yang telah aku sebutkan.”
Rasul Saw bersabda: “Bukan, namun kau pernah duduk bersama Shafwan
bin Umayyah dekat Hijir Ismail, dan kalian berdua mengenang orangorang
Quraisy yang terkubur di Al Qalib lalu kau berkata: ‘kalau bukan
karena hutang dan keluargaku aku akan datang kepada Muhammad lalu
membunuhnya… lalu Shafwan bin Umayyah bersedia untuk membayar
hutangmu dan menjaga keluargamu agar engkau dapat membunuhku…
dan Allah adalah penghalang dirimu untuk melakukannya.”

Umair merasa terkejut sesaat, lalu ia mengatakan: aku bersakdi bahwa
engkau adalah utusan Allah. Kemudian ia mengatakan: “Dahulu kami
selalu mendustakan apa yang engkau bawa dari berita langit. Dan kami
juga mendustakan wahyu yang turun kepadamu. Akan tetapi kisah
pembicaraanku dengan Shafwan bin Umayyah tidak ada yang
mengetahuinya selain aku dan dia.

Demi Allah, kini aku yakin bahwa yang telah memberitahukanmu
adalah Allah. Segala puji bagi Allah yang telah mengantarkan aku kesini
untuk menunjukkan aku kepada Islam.”
Lalu ia bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah. Dan akhirnya, ia pun masuk Islam.
Rasul Saw lalu bersabda: “Ajarkan saudara kalian ini tentang
agamanya. Ajarkan kepadanya Al Qur’an dan bebaskan tawanannya.”

Kaum muslimin amat bergembira dengan keislaman Umair bin Wahab;
bahkan Umar bin Khattab ra sempat berkata: “Tidak ada babi yang lebih
aku cintai selain Umair bin Wahab saat ia datang menghadap Rasulullah
Saw. Mulai hari ini ia adalh orang yang paling aku cintai daripada anakanakku
sendiri.”

Saat Umair sedang mensucikan dirinya dengan ajaran Islam, mengisi
hatinya dengan cahaya Al Qur’an, dan mengisi hari-hari terindah dalam
sisa umurnya yang membuat ia terlupa akan Mekkah dan orang-orang
yang tinggal di dalamnya. Pada saat yang sama Shafwan bin Umayyah
sedang berangan-angan, dan ia melewati perkumpulan orang-orang
Quraisy sambil berkata: “Bergembiralah dengan berita besar yang akan
kalian dengan sebentar lagi. Sebuah berita yang akan membuat kalian
melupakan peristiwa Badr!”

Setelah penantian cukup lama yang dijalani Shafwan bin Umayyah,
maka sedikit demi sedikit ia merasa kekhawatiran merasuki dirinya.
Sehingga hatinya menjadi lebih panas ketimbang batu bara. Dan ia mulai
kasak-kusuk bertanya kepada para pengelana tentang kabar Umair bin
Wahab, namun tidak satu pun jawaban mereka yang dapat
memuaskannya. Namun datang seorang pengelana yang mengatakan
bahwa Umair telah masuk Islam. Begitu mendengar berita itu, seraya
tersambar petir Shafwan dibuatnya… karena ia menduga bahwa Umair bin
Wahab tidak akan masuk Islam meski semua manusia di bumi ini masuk
Islam.

Sedang Umair bin Wahab sendiri hampir saja menguasai agama yang
baru dianutnya dan menghapal beberapa ayat Al Qur’an yang mudah
baginya sehingga ia datang menghadap Nabi Saw seraya berkata: “Ya
Rasulullah dahulu aku adalah seorang yang selalu berusaha untuk
memadamkan cahaya Allah. Dahulunya aku adalah orang yang selalu
menyiksa para pemeluk Islam. Aku berharap engkau mengizinkan aku
untuk datang ke Mekkah untuk berdakwah kepada kaum Quraisy agar

kembali ke jalan Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka menerima dakwahku,
maka itu amat baik buat mereka. Jika mereka menolak dan berpaling
dariku, maka aku akan menyiksa mereka sebagaimana aku dulunya
menyiksa para sahabat Rasul Saw.”
Rasul Saw memberinya izin dan ia pun berangkat ke Mekkah.
Sesampainya di sana ia datang ke rumah Shafwan bin Umayyah sambil
berkata: “Ya Shafwan, engkau adalah salah seorang pemuka kota Mekkah,
seorang intelektual dari suku Quraisy. Apakah menurutmu apa yang kalian
lakukan dengan beribadah kepada batu dan melakukan penyembelihan
untuknya dapat diterima oleh akal untuk dijadikan agama?!”
Sedangkan aku kini telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Lalu Umair mulai berdakwah di Mekkah sehingga banyak orang yang
masuk Islam karena dakwahnya. Semoga Allah Swt melipatgandakan
pahala Umair bin Wahab dan memberikan cahaya pada kuburnya.
Untuk dapat mengenal sosok Umair bin Wahab lebih jauh dapat
merujuk ke:
  1. Hayat As Shahabah (Lihat daftar isi pada juz 4)
  2. As Sirah karya Ibnu Hisyam dengan Tahqiq Al Saqaa: (lihatdaftar isi)
  3. Ishabah 3/36 atau terjemah 6058
  4. Thabaqat Ibnu Sa’d 4/146 
Read more

Kisah Siti Maryam Dari Lahir Hingga Wafat Lengkap

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Kisah Siti Maryam Dari Lahir Hingga Wafat Lengkap, kisah wafatnya siti maryam, siti maryam ibu nabi isa, kisah siti maryam mengandung, siti maryam dan bunda maria, kisah maryam dalam al quran, kisah maryam wanita terbaik di dunia, suami siti maryam, kisah maryam melahirkan nabi isa, kisah lengkap maryam binti imran, kisah maryam melahirkan nabi isa, kisah maryam wanita terbaik di dunia, kisah maryam dan pohon kurma, kisah maryam mengandung, kisah wafatnya siti maryam, siti maryam dan bunda maria,
Kisah Siti Maryam Dari Lahir Hingga Wafat Lengkap

Kisah Siti Maryam Dari Lahir Hingga Wafat Lengkap - Alhamdulillah segala puji bagi robb pencipta alam dunia dan akhirta, yang berkuasa atas segala sesuatu yang IA SWT kehendaki seperti kisah teladan Siti Maryam Ibunda Nabi Isa A.s yang lahir atas kehendak allah SWT tanpa ayah. Inilah kisah wanita soleha Siti Maryam Ibunda Nabi Isa AS yang wajib kita teladani.

Ali Imran merupakan nama seorang laki-laki yang keluarganya telah terpilih menjadi keluarga yang diberkati oleh Allah. Allah memilih keluarga Ali Imran adalah karena dari pasangan suami istri ini lahir salah seorang wanita yang mulia dalam sejarah yaitu Maryam.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (3:33)

Semasa Maryam masih di dalam kandungan, istri Imran yang bernama Hannah bernazar akan “menyerahkan” anaknya itu kepada Allah sebagai Pemelihara agar kelak menjadi hamba yang soleh yang selalu berkhidmat di Baitul Maqdis (Yerussalem). Hal ini tertulis di dalam ayat ke-35 yang terjemahannya berbunyi:

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (3:35)

Hari-hari terus berjalan. Takdir Allah tak dapat dielakkan. Ketika masa kelahiran anaknya sudah dekat, ’Imran, suami Hannah, wafat. Hannah kehilangan suami yang mencintainya. Tidak ada yang meringankannya kecuali saudara perempuannya, yaitu Isya`, dan suami Isya`, Nabi Zakariya, keturunan Nabi Sulaiman bin Daud as. Untuk mencari nafkah, Nabi Zakariya berprofesi sebagai tukang kayu.

Ketika tahu anak yang dilahirkan itu adalah perempuan, istri Imran menamai anaknya Maryam, dan istri Imran meminta kepada Allah agar anaknya itu dipelihara oleh Allah dan melindunginya dari syetan.

Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (3:36)

Hannah kemudian mengambil Maryam, membungkusnya dengan kain, dan pergilah ia bersama anaknya dari Nazariat ke Baitul Maqdis untuk melaksanakan nadzarnya. Dia menemui para pendeta yang ada di sana, yaitu putra-putra Harun, yang jumlahnya tiga puluh orang. Adapun Nabi Zakariya adalah kepala Baitul Maqdis.

Hannah berkata kepada mereka, “Ambilah anak yang kunadzarkan ini!”

Maka, dengan berebutan, pada pendeta itu menawarkan dirinya untuk memungut anak itu, termasuk Nabi Zakariya. Masing-masing dari mereka ingin mengambil dan memelihara Maryam, sebab bayi itu adalah anak ‘Imran, seorang yang terkenal shaleh.

Akhirnya semua pendeta itu setuju untuk mengundi siapa di antara mereka yang paling berhak atas anak itu. Pergilah mereka ke Sungai Urdun. Masing-masing mereka melemparkan pena-pena yang biasa mereka gunakan untuk menuliskan ayat-ayat Taurat ke dalam air sungai.

Allah SWT berfirman:

Ali ‘Imran: 44

44. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Ternyata, air sungai menenggelamkan semua pena pendeta itu, kecuali pena Zakariya yang tetap terapung-apung di permukaan air. Dengan demikan, berarti Zakariyalah yang berhak memelihara Maryam.

Allah SWT berfirman:

Ali ‘Imran: 37

37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.

Maryam tumbuh menjadi wanita yang kerjanya setiap hari hanya beribadah dengan berkhidmat kepada Allah di Rumah-Nya di Baitul Maqdis. Zakaria adalah “kuncen” Rumah Allah tersebut. Di sinilah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada Maryam. Setiap kali Zakaria menemui Maryam di mihrab, dia mendapati berbagai makanan yang lezat berada di samping Maryam. Dari manakah datangnya makanan itu? Setahu dia Maryam tidak pernah membawa makanan ke Rumah-Nya, Zakarilah yang selalu mengantarkan makanan kepada Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan itu berasal langsung dari Allah, mungkin diturunkan dari langit atau melalui perantara malaikat-Nya.

Lanjutan ayat 37 di atas:

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (3:37)

Allah telah memilih Maryam sebagai wanita solehah yang dilebihkan dari wanita lain di dunia. Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (3:42)

Sebagai bentuk ketaatan, Allah memerintahkan Maryam agar selalu menyembah Allah, selalu sujud dan rukuk kepada Allah bersama orang-orang lainnya lainnya yang menyembah Allah.

Hai Maryam, ta’atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (3:43)

Sampai suatu hari Allah akan memberikan suatu keajaiban yang tidak disangka-sangka bagi Maryam. Allah mengabarkan bahwa Maryam akan mengandung seorang anak lelaki yang namanya sudah ditentukan oleh Allah yaitu Isa Al Masih (atau Al Masih isa putera Maryam).

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (3:45)

Ketika masih bayi Isa kelak memiliki mukjizat yaitu sudah bisa berbicara dengan manusia:

dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh.” (3:46)

Maryam tentu saja merasa kaget, bagaiman mungkin dia akan mengandung, padahal dia belum menikah, dan dia belum pernah disentuh atau berhubungan dengan lelaki manapun. Tentu saja, karena Maryam kerjanya setiap hari hanyalah berkhidmat kepada Allah di Baitul Maqdis. Dia jarang keluar dari Rumah-Nya, apalagi bergaul dengan lelaki. Allah menjawab seperti kasus Nabi Zakaria di atas, bahwa hal itu mudah saja bagi-nya, kun fayakun, maka apapunyang Dia kehendaki pasti akan terjadi. Dialah Allah SWT yang Maha Pencipta.

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (3:47)

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (3:48)

Allah mengutus Nabi Isa kepada Bani Israil. Kepada Bani Israil Nabi Isa menjelaskan tanda-tanda kenabiannya yaitu mukjizat menghidupkan burung dari tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kusta.

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (3:49)

Nabi Isa berkata kepada kaumnya bahwa dia membenarkan kitab-itab terdahulu yang telah diturunkan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Daud (Zabur), lalu menghalalkan apa yang dahulu diharamkan.

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku. (3:50)

Lalu Nabi Isa meminta kaumnya agar menyembah Allah SWT sebagai jalan yang benar.

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (3:51)

sumber : anaksalehcom

Kisah Siti Maryam Dari Lahir Hingga Wafat Lengkap, kisah wafatnya siti maryam, siti maryam ibu nabi isa, kisah siti maryam mengandung, siti maryam dan bunda maria, kisah maryam dalam al quran, kisah maryam wanita terbaik di dunia, suami siti maryam, kisah maryam melahirkan nabi isa, kisah lengkap maryam binti imran, kisah maryam melahirkan nabi isa, kisah maryam wanita terbaik di dunia, kisah maryam dan pohon kurma, kisah maryam mengandung, kisah wafatnya siti maryam, siti maryam dan bunda maria.
Read more

Kisah Sahabat Abdullah Bin Hudzafah As Sahmy R.a

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Kisah Sahabat Abdullah Bin Hudzafah As Sahmy R.a, kisah teladan abdullah bin hudzafah, abdullah bin huzaifah, kisah keimanan para sahabat nabi
Kisah Sahabat Abdullah Bin Hudzafah As Sahmy R.a
Kisah Sahabat Abdullah Bin Hudzafah As Sahmy R.a - Alhamdulillah dipenghujung ramadhan ini allahSWT telah menggerakan hati saya lagi untuk memosting kisah sahabat rasulullah SAW, Kisah Sahabat Abdullah Bin Hudzafah As Sahmy R.a saya pun belum tau bagaimana kisaha singkat sahabat ini. Untuk mempersingkat basa basi ini lasung saya simak kisah dibawah ini :

“Menjadi Kewajiban Bagi Setiap Muslim untuk Mencium Kepala
Abdullah Bin Hudzafah, Saya yang Akan Memulainya Terlebih
Dahulu” (Umar Bin Khattab)

Tokoh kisah ini adalah seorang pria dari kalangan sahabat yang
bernama Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy.Sejarah dapat saja berlalu atas
tokoh kita ini sebagaimana sejarah terus berlalu terhadap jutaan bangsa
Arab sebelum Abdullah tanpa memberikan perhatian khusus kepada
mereka.
Akan tetapi Islam yang agung memberikan kesempatan kepada
Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy untuk bertemu dengan pemimpin dunia
saat itu yaitu Kisra Raja Persia dan Kaisar yang agung raja Romawi…
Bersama dua pemimpin besar ini, Abdullah mencatat kisah yang senantiasa
diingat orang dan terus dikisahkan oleh lisan sejarah sepanjang masa.

Adapun kisah Abdullah dengan Kisra raja Persia itu terjadi pada tahun
ke enam hijriyah saat Nabi Saw berniat untuk mengirimkan beberapa
rombongan sahabatnya dengan membawa surat kepada para raja
berkebangsaan non-arab untuk mengajak mereka masuk ke dalam Islam.
Rasulullah Saw sudah memprediksikan bahaya dari tugas ini…. Para
utusan Rasul tadi akan berangkat menuju negeri-negeri yang jauh yang
belum pernah mengadakan kerjasama dan kesepakatan dengan Islam
sebelumnya. Para utusan tadi tidak mengerti bahasa-bahasa negeri yang
akan didatanginya dan mereka juga tidak sedikitpun mengerti watak para
raja tadi… Para utusan tadi juga akan mengajak para raja untuk
meninggalkan agama mereka, melepaskan kebesaran dan kekuasaan serta
masuk ke dalam sebauh agama suatu kaum…..

Ini merupakan sebuah
ekspedisi berbahaya. Sebab yang berangkat ke sana dapat menghilang
sedang yang kembali dari ekspedisi ini hanya tinggal anaknya saja.Oleh
karenanya Rasulullah Saw mengumpulkan para sahabatnya . Beliau berdiri
dihadapan mereka dalam sebuah khutbah: Setelah memuji Allah,
mengucapkan syahadat Beliau bersabda:
“Amma ba’du. Aku ingin mengutus beberapa orang dari kalian untuk
datang kepada beberapa orang raja non-Arab. Janganlah kalian
membantah aku sebagaimana Bani Israil membantah Isa putra Maryam.”
______________________________________________________________

Para sahabat Rasulullah Saw menyambut dengan berseru: “Ya
Rasulullah, kami akan mendukung apapun yang kau inginkan. Kirimlah
kami kemana saja engkau inginkan.”

Rasulullah Saw mengutus 6 orang sahabatnya untuk membawa surat
dari Beliau kepada beberapa orang raja Arab dan non-Arab. Salah seorang
dari ke enam utusan tadi adalah: Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy yang
diutus untuk membawa surat Nabi Saw kepada Kisra raja Persia

Abdullah serta-merta mempersiapkan bekalnya. Ia mengucapkan kata
perpisahan kepada istri dan anaknya. Ia lalu berangkat menuju tempat
tujuannya yang melalui berbagai lereng dan bukit dataran tinggi maupun
rendah. Ia lakukan perjalanan tersebut sendirian tanpa ada teman yang
mengiringi selain Allah Swt. Saat ia sampai di perkampungan wilayah
Persia, ia memohon izin untuk dapat masuk kepada rajanya. Dan para
permbantu raja memperingatkan bahaya dari surat yang dibawa Abdullah
kepada raja.

Mendengar itu raja Kisra memerintahkan para pembantunya untuk
menghias istana, lalu ia megundang para pembesar bangsa Persia untuk
dapat hadir dalam kesempatan ini. Kemudian Kisra mengizinkan Abdullah
bin Hudzafah untuk datang.

Lalu datanglah Abdullah bin Hudzafah menghadap pemimpin Persia
dengan menggunakan selendang tipis yang menutupi tubuhnya, ia juga
mengenakan baju panjang berbahan kasar yang ditutupi dengan selendang
khusus bangsa Arab.

Akan tetapi ia memiliki leher yang tegak. Postur tubuh yang tegap. Dari
tulang rusuknya terlihat keagungan Islam. Dalam hatinya menyala
kebesaran iman.
Begitu Kisra melihat Abdullah datang menghadap, ia langsung memberi
isyarat kepada salah seorang pembantunya untuk mengambil surat dari
tangan Abdullah, maka Abdullah langsung berkata: “Jangan, Rasulullah
Saw menyuruhku untuk menyerahkan surat ini langsung ke tanganmu,
dan aku tidak ingin melanggar perintah Rasulullah.”

Kisra langsung memerintahkan kepada semua pembantunya: “Biarkan
ia mendekat kepadaku.” Maka Abudllah langsung mendekat ke arah Kisra
sehingga ia dapat langsung menyerahkan surat tersebut ke tangan Kisra.
Lalu Kisra memanggil seorang juru tulis berkebangsaan Arab dari
negeri Al Hirah6 dan ia memerintahkan untuk membuka surat tersebut

6Sebuah daerah di Iraq antara Najaf dan Kufah
_________________________________________________

dihadapannya. Dan Kisra meminta juru tulis tadi untuk membacakannya:
“Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra yang
Agung raja Persia. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk…”
Begitu Kisra mendengar isi surat sebagaimana yang telah dibacakan
kepadanya, maka tersulutlah api amarah dalam dadanya. Wajahnya
menjadi merah. Keringatnya mengucur deras dari leher karena dalam surat
tersebut Rasulullah Saw memulai dengan menyebut dirinya sendiri…

Lalu ia langsung menyambar surat tersebut dan merobeknya tanpa ia tahu apa
yang ada dalam isi surat itu. Ia pun langsung berseru: “Apakah ia berani
menuliskan hal ini kepadaku, padahal dia adalah budakku?!!” Lalu ia
memerintahkan para pengawalnya untuk mengeluarkan Abdullah bin
Hudzafah dari hadapannya. Dan akhirnya Abdullah dibawa keluar.

Abdullah bin Hudzafah keluar meninggalkan ruang sidang Kisra. Ia
sendiri tidak tahu ketentuan Allah yang bagaimana yang akan terjadi pada
dirinya…. Apakah ia akan dibunuh atau dibiarkan hidup dengan bebas?
Akan tetapi ia masih sempat berujar: “Demi Allah, aku tidak peduli
akan nasibku setelah aku menyampaikan surat Rasulullah Saw… Iapun
langsung menaiki kendaraannya dan akhirnya berangkat.
Begitu amarah Kisra mereda, ia memerintahkan untuk membawa
masuk kembali Abdullah; namun ia tidak ditemukan… para pembantu raja
lalu mencarinya, namun sayang Abdullah telah pergi tanpa jejak.
Merekapun terus mengejar sepanjang jalan hingga ke jazirah Arab, dan
mereka menyadari bahwa Abdullah telah pergi jauh.

Begitu Abdullah datang menghadap Nabi Saw ia menceritakan apa
yang terjadi dengan Kisra dan surat Nabi Saw yang dirobeknya. Rasul Saw
tidak menanggapi dengan ucapan apa-apa selain: “Allah akan merobekrobek
kerajaannya.”

Kisra kemudian mengirim surat kepada Badzan wakilnya yang berada
di Yaman. Dalam suratnya Kisra berpesan: “Kirimlah kepada orang yang
ada di Hijaz ini (Muhammad) dua orang kuat yang kau miliki. Dan
suruhlah mereka berdua membawanya menghadapku…” Maka Badzan
mengutus dua orang terbaiknya kepada Rasulullah Saw, dan lewat kedua
orang tadi Badzan menitipkan surat kepada Rasul yang didalamnya
terdapat perintah kepada Rasul untuk berangkat bersama kedua orang
utusannya untuk menghadap Kisra sesegera mungkin…
Badzan juga meminta kedua utusannya untuk mencari informasi
tentang diri dan kisah Rasulullah, dan meminta keduanya melaporkan
setiap informasi tentang diri Beliau.
______________________________________________________________

Kedua orang utusan tadi berangkat dengan kecepatan tinggi sehingga
keduanya tiba di daerah Thaif. Mereka berdua bertemu dengan para
pedagang dari suku Quraisy. Begitu melihat mereka, keduanya langsung
menanyakan tentang diri Muhammad Saw. Para pedagang Quraisy
menjawab: “Mereka kini ada di Yatsrib.” Kemudian para pedagang tadi
melanjutkan perjalanan ke Mekkah dengan gembira, dan mereka
membawa kabar gembira kepada suku Quraisy sambil berkata:
“Bergembiralah! Kisra sekarang akan menghantam Muhammad dan kalian
tidak usah lagi khawatir akan kejahatannya.”

Sedang kedua utusan tadi langsung menuju Madinah. Tatkala sampai
disana mereka berdua bertemu dengan Nabi Saw. Mereka lalu
menyerahkan surat Badzan kepada Beliau sambil berkata: “Raja diraja Kisra
menuliskan surat kepada raja kami Badzan untuk mengutus seseorang yang
dapat membawamu menghadapnya… Kami kini sudah datang untuk
menjemputmu. Jika kau ingin, kami dapat berbicara kepada Kisra sehingga
ia tidak mencelakakanmu dan membiarkanmu selamat. Jika kau menolak,
kau sudah mengerti kekuatan, kebengisan dan kemampuannya untuk
membunuhmu dan semua kaummu.”

Lalu Rasulullah Saw tersenyum sambil bersabda kepada mereka berdua:
“Kembalilah lagi ke tunggangan kalian hari ini, dan datanglah esok!.”
Begitu mereka berdua datang menghadap lagi kepada Nabi di hari
esoknya, mereka berdua berkata: “Apakah kau sudah mempersiapkan diri
untuk berangkat bersama kami menghadap Kisra?”
Nabi Saw menjawab mereka dengan bersabda: “Kalian tidak akan
bertemu dengan Kisra lagi setelah ini…. Allah telah membunuhnya; dengan
mengangkat putranya yang bernama Syirawaih di malam ini…. Dan bulan
ini….”

Mereka berdua lalu menatap tajam wajah Nabi Saw, dan nampak
keterkejutan di wajah mereka berdua. Keduanya bertanya: “Apakah engkau
mengerti apa yang kau katakan? Apakah kami perlu menulis surat tentang
hal ini kepada Badzan?”
Rasul Saw menjawab: “Silahkan dan katakan kepadanya bahwa
agamaku akan dapat menguasai apa yang telah dikuasai oleh Kisra dan jika
ia mau masuk ke dalam Islam, aku akan membiarkan apa yang telah ia
miliki dan menjadikannya sebagai raja bagi kaumnya.”

Akhirnya kedua utusan tadi pergi meninggalkan Rasulullah Saw dan
mereka pergi menghadap Badzan. Keduanya menceritakan kisahnya.
Badzan lalu berkata: “Jika apa yang dikatakan Muhammad adalah benar
maka dia adalah seorang Nabi, namun jika tidak maka kami akan
mengambil keputusan atasnya…”
_________________________________________________
Tidak lama berselang maka tibalah kepada Badzan surat dari Syirawaih
yang didalamnya tertulis: “Amma ba’du… Aku telah membunuh Kisra. Aku
membunuhnya karena ingin membalas dendam bangsaku. Karena ia telah
memerintahkan untuk membunuh para pembesar bangsa, menjadikan
wanita-wanitanya sebagai budak dan merampas harta rakyat. Jika surat ini
telah sampai di tanganmu maka engkau dan seluruh pengikutmu harus
tunduk dan taat kepadaku.”

Begitu Badzan membaca surat dari Syirawaih, ia langsung membuang
surat tersebut dan ia mengumumkan bahwa ia masuk Islam. Karenanya,
maka seluruh bangsa Persia yang berada di Yaman masuk Islam
bersamanya.

Demikianlah kisah perjumpaan Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra
raja Persia. Lalu bagaimana kisah perjumpaannya dengan Kaisar yang
Agung raja Romawi?

Perjumpaan Abdullah dengan Kaisar terjadi pada masa khilafah Umar
bin Khattab ra. Dan Umar punya kisah tersendiri dengan Abdullah yang
termasuk kisah paling menakjubkan.

Pada tahun 19 Hijriyah, Umar mengirimkan pasukan untuk berperang
dengan Romawi yang didalamnya terdapat Abdullah bin Hudzafah Al
Sahmy…. Kaisar raja Romawi sudah mendengar tentang kisah pasukan
kaum muslimin dan sifat mereka yang memiliki iman yang kuat, akidah
yang kokoh dan rela mengorbankan jiwa di jalan Allah dan Rasul-Nya.
Kaisar memerintahkan kepada pasukannya –jika mereka dapat
menangkap seorang tawanan dari pasukan kaum muslimin- hendaknya
tidak diapa-apakan akan tetapi dibawa menghadapnya hidup-hidup…
Kehendak Allah menetapkan bahwa Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy
menjadi tawanan bangsa Romawi. Maka para pasukan Romawi membawa
Abdullah menghadap Kaisar. Para pasukan tadi berkata kepadanya: “Ini
adalah seorang sahabat Muhammad yang masuk Islam lebih dahulu, dan ia
berhasil kami tangkap; dan kini kami membawanya menghadapmu.”

Raja Romawi memadang ke arah Abdullah bin Hudzafah dengan
seksama,lalu ia berkata kepadanya: “Aku akan menawarkan sesuatu
kepadamu.” Abdullah bertanya: “Apa itu?” Kaisar menjawab: “Aku
menawarkan kepadamu untuk masuk ke dalam agama Nashrani. Jika kau
mau, aku akan membiarkanmu hidup dan membuatmu hidup muia.” Maka
Abdullah menjawab dengan sengit dan tegas: “Tidak akan bagiku.
Kematian 1000 kali lebih aku sukai daripada memenuhi ajakanmu.”
Kaisar lalu berkata: “Menurutku engkau adalah seorang yang mulia…
Jika kau mau menerima tawaranku maka aku akan menjadikanmu sebagai
pembantuku dan aku akan berbagi kekuasaan denganmu.”
_____________________________________________________________
Abdullah yang sedang dalam kondisi terikat itu tersenyum seraya
berkata: “Demi Allah, andai saja kau beri aku seluruh apa yang kau miliki
dan semua yang dimiliki bangsa Arab agar aku keluar dari agama
Muhammad sekejap saja, maka aku tidak akan pernah melakukannya.”
Kaisar berkata: “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Abdullah
menjawab: “Lakukan saja apa yang kau inginkan.”
Kemudian Kaisar memerintahkan agar Abdullah disalib. Kemudian ia
memerintahkan para juru tombaknya untuk melontarkan tombak ke arah
tangan Abdullah, karena ia berani menolak untuk masuk agama Nasrani.
Kaisar pun memerintahkan kepada juru tombaknya untuk melemparkan
tombak ke arah kaki Abdullah karena ia berani menolak untuk
meninggalkan agamanya.

Setelah itu, Kaisar meminta para juru tombaknya berhenti dan
menyuruh mereka untuk menurunkan Abdullah dari tiang salib. Kemudian
Kaisar meminta sebuah tungku besar yang berisikan minyak. Ia lalu
menyalakan api sehingga mendidih. Lalu ia memanggil pembantunya
untuk membawa dua orang tawanan dari kaum muslimin lainnya. Lalu
Kaisar memerintahkan agar salah seorang dari tawanan tadi dimasukkan
ke dalam tungku tadi. Maka serta merta dagingnya langsung terburai…
dan tulangnya menjadi kelihatan.

Lalu Kaisar menoleh ke arah Abdullah bin Hudzafah dan mengajaknya
untuk masuk ke dalam agama Nashrani. Namun Abdullah menolaknya
dengan lebih keras lagi.
Tatkala kesabaran Kaisar sudah habis, ia menyuruh pembantunya
untuk memasukkan Abdullah ke dalam tungku bersama kedua sahabatnya
tadi. Tatkala para pengawal membawa Abdullah, maka kedua matanya
mengeluarkan air mata. Maka para pengawal tadi memberitahukan Kaisar
bahwa Abdullah telah menangis…

Kaisar menduga bahwa Abdullah sudah merasa takut dan ia berkata:
“Bawa kembali dia menghadapku!”
Tatkala Abdullah sudah berada di hadapan Kaisar. Kaisar menawarkan
agama Nasrani kembali kepadanya dan ia pun masih menolak.
Maka Kaisar menjadi berang karenanya seraya berkata: “Celaka kamu,
lalu apa yang membuatmu menangis tadi?” Abdullah menjawab: “Yang
membuat aku menangis adalah saat aku berkata dalam diri sendiri:
‘Sebentar lagi kau akan dimasukkan ke dalam tungku dan ruhmu akan
pergi. Dan aku berharap aku memiliki ruh yang banyak sejumlah rambut
yang berada di badanku, sehingga semuanya dimasukkan ke dalam tungku
dan mati di jalan Allah.”

Maka Kaisar yang lalim bertanya: “Maukah kau mencium kepalaku
sehingga aku akan membebaskanmu?” Abdullah balik bertanya: “Apakah
engkau juga akan membebaskan semua tawanan kaum muslimin?” Kaisar
menjawab: “Semuanya akan aku bebaskan.” Abdullah lalu berkata dalam
dirinya: “Dia adalah salah satu musuh Allah. Aku harus mencium
_________________________________________________
kepalanya sehingga ia akan membebaskanku dan semua tawanan
muslimin. Menurutku ini bukanlah hal yang dapat membawa mudharat.”
Kemudian Abdullah mendekat ke arah Kaisar dan iapun mencium
kepala Kaisar. Lalu Kaisar memerintahkan untuk membawa semua
tawanan muslimin menghadapnya dan kemudian mereka semua
dibebaskan.

Abdullah bin Hudzafah datang menghadap Umar bin Khattab ra. Ia
mengisahkan ceritanya; Umar langsung gembira dibuatnya. Tatkala Umar
melihat semua tawanan yang bersamanya ia berujar: “Menjadi kewajiban
bagi setiap muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Hudzafah… dan
aku sendiri yang akan memulainya.” Lalu Umar berdiri dan mencium
kepala Abdullah.

Untuk dapat mengenal sosok Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy lebih
jauh dapat merujuk ke:
Referensi :

1. Al Ishabah 2/ 296 atau tarjamah 4622
2. Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (tahqiq Al Saqaa) lihat
daftar isi
3. Hayat As Shahabah karya Muhammad Yusuf Al Kandahlawy:
(Lihat daftar isi pada juz 4)
4. Tahdzib Al Tahdzib 5/185
5. Imta’ Al Asma 1/308, 444
6. Husnu As Shahabah 305
7. Al Mihbar 77
8. Tarikh Al Islam karya Al Dzahaby 2/88
Kisah Sahabat Abdullah Bin Hudzafah As Sahmy R.a, kisah teladan abdullah bin hudzafah, abdullah bin huzaifah, kisah keimanan para sahabat nabi.
Read more

Ciri Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
ayat lailatul qadar, keistimewaan malam lailatul qadar, kisah sang pencari lailatul qadar, 6 tanda malam lailatul qadar, doa malam lailatul qadar, tanda tanda malam lailatul qadar, keutamaan lailatul qadar, malam lailatul qadar 2017, Tanda Mendapatkan Lailatul Qadar, Inilah 5 Ciri - ciri Orang yang Mendapat Malam Lailatul Qodar.
Ciri Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar
Ciri Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar - Alhamdulillah dibulan yang penuh ampunan ini semoga allah SWT mengampuni umat akhir zaman dan memasukan kita semua kesurga-NYA. Malam lailatul qadar malam yang sangat dicari cari oleh umat islam sedunia karena bulan tersebut adalah bulan yang penuh kemulian karena apa bila kita dapat beribadah dimalam tersebut sama dengan mendapakan malam seribu bulan. Berikut ini kami akan memberi tahu Ciri Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Kebanyakan dari kita selalu bertanya-tanya, bagaimanakah tanda-tanda seseorang yang peroleh lailatul qadar? Bisakah secara kasat mata manusia mengetahui jika ada seseorang yang mendapatkan malam seribu bulan? Rasa penasaran yang membuncah mendorong keingin tahuan yang cukup tinggi dari seorang hamba untuk bisa menemui lailatul qadar, atau paling tidak menemui seseorang yang dapatkan keberkahan malam itu.

Secara pasti memang tidak ada nash yang sebutkan tanda-tanda orang yang sangat beruntung mendapatkannya. Namun, jangan khawatir karena kita ternyata masih bisa mengenali cirri-cirinya. Menurut ustadz Ahmad Zaky ciri-cirinya ada empat poin yaitu :
  • Orang tersebut selalu ingin dan berusaha menjadi yang terbaik dimata Allah maupun manusia.
  •  Orang tersebut selalu merasa kurang dalam beribadah, padahal seluruh ibadah wajib maupun sunah sudah ia kerjakan.
  •  Ia menjadi orang yang tak sombong kepada atasan maupun bawahannya.
  •  Dari segi wajah ia terlihat lebih bersinar dan enak dipandang mata, dan ini hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang dekat dengan Allah.
Inilah Ciri-Ciri Khususnya

Ada pula yang menyebutkan cirri-ciri lain dari orang yang tengah mendapatkan lailatul qadar itu adalah:

1. Melihat Semua dengan Terang di Kegelapan Malam

Hal ini tidak semua hamba bisa melakukan hal serupa jika bukan yang dipilihNya. Kebanyakan manusia tidak akan bisa melihat dengan jelas apalagi terang saat digelapnya malam. Dan atas kuasa Nya seorang hamba pilihanNya pada malam itu seolah tak melihat kegelapan malam, karena semuanya serba terang.

2. Seolah dapat Melihat Seluruh Benda & Makhluk di Bumi Bersujud kepada Allah

Tanpa kita sadari sebenarnya semesta ini bersujud dan bertasbih kepada Allah, namun manusia tak bisa begitu saja bisa melihatnya secara kasat mata. Dan orang yang beruntung mendapatkan anugrah lailatul qadar ini akan bisa melihat semesta alam dan seluruh isi yang ada di dalamnya bersujud pada Allah!
Baca Juga :  RUKUN SHALAT YANG SERING KITA TERLUPA

3. Bisa Mendengar Suara Malaikat dan Semua Tutur Katanya

Rasulullah saat didatangi peristiwa luarbiasa dalam sujud saat mengimami shalat malam dengan para sahabatnya, beliau memang sujud begitu lama, padahal hujan datang mengguyur dengan lebatnya di masjid yang tak beratap sempurna. Seluruh tubuhnya basah, namun sama sekali tak mau beranjak, sampai para sahabat banyak yang menggigil, ternyata beliau didatangi malaikat yang bersesakan turun ke bumi dengan dengungan tasbih tak henti-hentinya. Suara malaikat yang begitu indah, diantara kedamaian yang luarbiasa dalam terang benderang!

4. Segala Doanya Dikabulkan Allah SWT

Kala lailatul qadar datang pada seorang hamba, maka doa-doa yang terpanjat, seberapa banyaknya akan dikabulkan oleh Allah.

5.  Orang itu tidak Disyaratkan Melihat Tanda Apa-apa.

Baik yang berupa fisik, namun bisa merasakan kedamaian, kekhusukan yang luar biasa. Memang perasaan kedamaian yang luarbiasa yang hampir tak pernah dirasakan sebelumnya, adalah hal yang paling sering dijumpai hamba yang mendapatkan lailatul qadar.

6. Imannya Bertambah Kuat

Karena sudah mengalami peristiwa spiritual yang luar biasa, maka akan tambah kuatlah imannya. Perilaku sehari-hari akan lebih baik tentunya seperti senang sedekah, jauhi ghibah dan hal-hal yang tidak manfaat, lebih mampu mengendalikan diri dan lebih toleran pada oranglain, tak peduli golongan, suku bahkan agamanya.

Yang Dilakukan Nabi di 10 Malam Terakhir

Dahulu, Nabi Muhammad SAW bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan amalan-amalan melebihi waktu lainnya. Sebagaimana yang istri beliau Ummul Mu’minin Aisyah RA pernah katakan :

يَجْتَهِدُفِىالْعَشْرِالأَوَاخِرِمَالاَيَجْتَهِدُفِىغَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Aisyah RA juga berkata :

كَانَالنَّبِىُّ – صلىاللهعليهوسلم – إِذَادَخَلَالْعَشْرُشَدَّمِئْزَرَهُ،وَأَحْيَالَيْلَهُ،وَأَيْقَظَأَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Maka sudah seharusnya kita mengikuti apa saja yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di sepertiga malam terakhir bulan ramadhan, agar kita lebih dekat dengan Allah SWT dan memperoleh kemuliaan atau keutamaan malam Lailatul Qadar.

ayat lailatul qadar, keistimewaan malam lailatul qadar, kisah sang pencari lailatul qadar, 6 tanda malam lailatul qadar, doa malam lailatul qadar, tanda tanda malam lailatul qadar, keutamaan lailatul qadar, malam lailatul qadar 2017, Tanda Mendapatkan Lailatul Qadar, Inilah 5 Ciri - ciri Orang yang Mendapat Malam Lailatul Qodar.
Read more

Keuntungan dan Keistimewaan Menikah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

hadits fadhilah menikah, keutamaan nikah menurut syariat islam, keutamaan menikah bagi wanita, keutamaan menikah hari jumat, keutamaan menikah muda dalam islam, tujuan pernikahan dalam surat ar rum ayat 21, pahala yang didapat setelah menikah, hadits menikah menyempurnakan separuh agama, Fhadilah Menikah Bagi Manusia
Keuntungan dan Keistimewaan Menikah
Keuntungan dan Keistimewaan Menikah - Alhamdulillah, Segala sesuatu yang diciptkan allah tidaklah sia sia jika kita ukur dengan nilah keimanan seperti menikah sangat besar fadhilahnya bagi setiap manusia. Setiap amalan lelaki ataupun perempuan yang sudah menikah lebih besar ganjaran disisi allah SWT. Dibiwah ini adalah hadist dan firman allah SWT tentang keutamaan dan keistimewaan pasangan yang sudah menikah.

☑ “Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

☑ “Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

☑ “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)

☑ “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

☑ “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)

☑ “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)

☑ “Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)

☑ “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)

☑ “Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)

☑ “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

☑ “Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)

☑ “Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)

☑ “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

☑ “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).

☑ “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)

☑ “Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)

☑ “Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)

☑ “Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)

☑ “Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)

☑ “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

☑ “Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

☑ “Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

☑ “Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

☑ “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

☑ “Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya،¦la dan Thabrani)

☑ “Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

☑ “Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

☑ “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

☑ “Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

☑ “Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

☑ “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

☑ “Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

☑ “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)

☑ “Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)

☑ “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

hadits fadhilah menikah, keutamaan nikah menurut syariat islam, keutamaan menikah bagi wanita, keutamaan menikah hari jumat, keutamaan menikah muda dalam islam, tujuan pernikahan dalam surat ar rum ayat 21, pahala yang didapat setelah menikah, hadits menikah menyempurnakan separuh agama, Fhadilah Menikah Bagi Manusia
Read more